Wednesday, January 25, 2006

DIMANA BAPAK, BU

“Dimana Bapak, Bu?” tanyaku.
Ibu tidak menjawab. Ibu sibuk mendadani wajahnya di depan cermin. Tangannya begitu terampil menyapu bibir dengan gincu merah menyala.
“Ibu, aku ingin tahu dimana Bapak,” kataku.
Kembali ibu tidak menjawab. Kali ini ia mengganti daster coklat muda dengan celana hitam dan kaos merah muda ketat. Dipandangnya cermin sekali lagi. Ketika dirasa penampilannya pantas, ibu mematikan lampu lalu menutup pintu bilik kamar dan berjalan terburu-buru.
“Ibu, pria ini bukan Bapak,” ujarku, memberitahu.
Pria yang menemani ibu berperut sangat buncit dan lebih pendek dari ibu. Namanya Anwar, bekerja sebagai supir truk antar kota. Aku mengetahuinya saat mereka bercakap-cakap di sepanjang jalan menuju kamar ibu.
“Ibu, dia bukan Bapakku!” jeritku kesal.
Namun ibu tidak perduli. Ibu malah tertawa genit saat pria itu menciuminya dengan penuh nafsu. Ibu membiarkan pria itu melucuti pakaiannya dan menggumulinya. Tak berapa lama, pria itu melenguh keras dengan napas yang tersengal-sengal.
Pria itu baru beranjak pergi setelah menyelipkan dua lembar uang kertas di balik baju ibu. Ibu menemani pria itu sampai ujung pintu. Ditutupnya pintu kala dilihatnya pria itu menghilang di tikungan jalan.
“Ibu, jangan pergi lagi. Malam hampir berganti pagi,” kataku saat melihat Ibu kembali menyapu bibirnya dengan gincu merah menyala. Ditaburi wajahnya dengan bedak berwarna kuning gading. Ibu mengacuhkan ucapanku. Ibu malah bersenandung lagu berirama dangdut yang menyayat hati.
‘Ku menangis, menangisku karena rindu
‘Ku bersedih, bersedihku karena rindu

Aku terdiam dan menghela napas panjang. Setiap kali aku protes dengan sikap ibu, setiap kali itu pula ibu menenangkanku dengan suaranya yang merdu. Begitu merdunya sampai membuatku terlena. Tak jarang aku tertidur dibuatnya.
*****

Ibuku bernama Darmini, berasal dari kota Tegal, Jawa Tengah. Sejak umur 16 tahun, ibu merantau ke Jakarta sebagai pembantu rumah tangga. Empat tahun pekerjaan yang dilakoninya berjalan mulus sampai suatu kali ia diperkosa oleh sang majikan.
Itulah awal tragedi dalam hidupnya. Karena ketahuan hamil, ibu diusir dari rumah sang majikan. Tanpa kerabat maupun teman, ibu berjuang sendiri mempertahankan hidup dari kerasnya kota Jakarta. Ibu menggugurkan kandungannya dengan satu alasan sederhana; ibu tidak menginginkan sang bayi.
Kegigihan ibu membawanya bekerja di sebuah klub malam di kawasan Blok M, salah satu kawasan yang terkenal bagi pria pencari kupu-kupu malam. Pelanggan ibu cukup elit saat itu. Lelaki ekspatriat berkebangsaan Jepang. Salah satunya bernama Masuto yang jatuh cinta kepadanya. Masuto membawa ibu pulang ke negaranya dan menikahinya.
Tetapi pernikahan itu tak berlangsung lama. Dua tahun setelah pernikahan itu, Masuto meninggal karena penyakit usus buntu kronis. Ibu lalu kembali ke Jakarta tanpa uang berlebih. Karena keluguan Ibu, keluarga Masuto yang sedari awal memang tak menyetujui pernikahan itu mengambil alih semua hartanya.
Sekembalinya dari Jepang, ibu mencoba melamar menjadi ladies di klub malam tempat dia bekerja dulu. Namun pihak klub menolaknya dengan alasan ibu tidak lagi muda. Saat itu ibu berumur 24 tahun, sedangkan pihak klub mencari wanita dengan umur tidak lebih dari 20 tahun. Ibu tidak putus asa. Ibu menjelajahi klub malam di daerah Kota dan Mangga Dua. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Pria hidung belang lebih memilih wanita berkulit putih dan bermata sipit. Jauh dari perawakan ibu yang berkulit sawo matang dan bermata bulat besar.
Dunia malam memang kejam. “Derajat” ibu dari seorang wanita penghibur klub malam berpindah ke pinggir jalan. Bersaing dengan wanita penghibur dan waria di jalan bukanlah hal yang mudah. Mereka tak segan bermain kasar. Belum lagi razia dari petugas tramtib yang setiap waktu mengancam.
Sudah hampir tiga tahun, ibu tinggal sendiri di sebuah kamar sempit berukuran 2x3 meter tak jauh dari stasiun Tebet. Tidak banyak perabotan di dalamnya. Hanya sebuah kasur, lemari dan meja kecil dengan cermin.
*****

Ibu berlari mendekati sebuah mobil sedan yang berjalan pelan tak berapa jauh dari tempatnya mangkal. Senyumnya mengambang membayangkan bayaran tinggi dari calon pelanggannya. Sudah lama, dia tidak mendapat pelanggan bermobil. Entah mengapa, hatiku berdesir tak enak. Perasaanku mengatakan akan terjadi sesuatu.
Firasatku terbukti. Aku kaget mendengar teriakan ibu. Seperti kemasukan setan, ibu tiba-tiba saja memaki, menghujat dan mencoba menarik paksa keluar pria di dalam mobil. Usahanya sia-sia. Pria itu berhasil kabur dan membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Aku menjerit melihat ibu jatuh tersungkur.
Aku mengejar mobil itu dengan rasa marah. Tak perduli secepat apa mobil itu dipacu. Aku penasaran apa yang membuat ibu histeris dan kalap begitu melihat pria itu. Selang berapa lama, aku tersenyum lega melihat mobil itu akhirnya berhenti.
Aku tertegun melihat sosok pria di dalam mobil. Memori kepalaku berputar dan menampilkan kejadian-kejadian lampau. Setelah semuanya selesai, aku menangis.
“Bapak,” ucapku, tercekat. Yah, aku teringat pria ini adalah bapakku.
Wajah pria yang kupanggil bapak pucat pasi. Jelas sekali bapak ketakutan. “Pergi!” teriaknya. “Jangan mendekat! Pergi!” teriaknya lagi, lalu bergegas lari keluar mobil. Bapak jatuh pingsan mengetahui aku masih mengikutinya.
Kembali aku menangis. Bukan karena respon dan penolakan bapak. Namun karena kenyataan yang terpampang jelas di hadapanku.
Rasa sedih, kecewa dan marah bercampur aduk di hatiku.
Aku sedih mengetahui bahwa bapak, orang yang selama ini aku cari, ternyata adalah pria yang telah memperkosa dan mengusir ibu.
Aku kecewa dan marah menyadari bahwa ibu telah menggugurkan diriku.
Aku baru saja sadar mengapa ibu tidak pernah mendengarkanku selama ini; karena ibu tidak pernah menganggapku ada. Karena ibu tidak pernah menginginkanku ada.
*****

Monday, January 24, 2005

Ia Yang Mencintai Hujan

Cerita bermula di penghujung tahun 1988. Saat itu Ia, seorang bocah laki-laki kecil, masih berumur 10 tahun.

"Dasar anak tidak tahu diri! Kerjanya cuma menyusahkan orang tua," hardik sang ayah tiri. Lalu sang ayah tiri menyeret Ia dengan kasarnya dan menempatkannya di pekarangan depan rumah.

Semburat kelabu mewarnai langit. Berkali-kali langit terbatuk-batuk dan sekali-kali memuntahkan riaknya berupa sinar petir dan kilat.

"Jangan pernah meninggalkan tempat ini!" ucapan sang ayah tiri lebih menyerupai ancaman. "Biar hujan menghapus kenajisan di dirimu. Biar petir dan kilat menghanguskan dosa di tubuhmu. Dasar anak haram!" ucap sang ayah tiri geram. Matanya menyerupai api, menjilat-jilat membakar amarahnya.

Hujan turun dengan malu-malu. Rintiknya menyapa rongga tubuh Ia, seolah meminta ijin untuk memasuki tubuhnya. Hujan turun semakin deras seiring dengan derasnya Ia menangis melihat sang ibu yang mengiba meminta kepada sang suami agar Ia diperbolehkan masuk.

"Aku tidak sudi Ia ada di rumah ini! Biar Ia mampus disambar petir! Biar kilat memanggang hangus tubuhnya." Api kembali membakar amarah ayah tirinya.

"Biarkan aku disini, Bu," desis Ia pelan. Rasanya luar rumah terasa lebih nyaman. Tanpa harus berdekatan dengan ayah tirinya. Ia baru saja dihadiahi warna biru lebam di pipi kanannya. Garis panjang merah bata di sekujur tubuhnya akibat sabetan sabuk kulit dan kuas merah darah di mulut serta pelipisnya. Ayah tirinya baru saja memulai ritual setiap kali menginjakkan kaki di rumah. Dia mengomel, memaki dan mengumpat. Dan setiap kali sang ayah melihat Ia, letupan amarahnya laksana api yang terciprat bensin. Menyambar dan melumat tanpa ampun. Tak terkecuali sore itu.

"Kasihan Ia Pak," iba sang ibu lagi. "Sudah tiga hari Ia tidak masuk sekolah karena sakit. Sekarang kau hukum Ia di tengah cuaca buruk seperti ini. Jangan kau siksa Ia." Sang Ibu hendak mendekati Ia tatkala sebuah pukulan mendarat telak di wajah perempuan itu. Petir dan kilat menyambar seiring dengan teriakan Ia melihat sang ibu jatuh tersungkur.

Suasana gaduh menyelimuti rumah besar nan megah di bilangan Selatan kota Jakarta. Ia melihat sang kakak dan adik tirinya berlari menghampiri sang Ibu.

"Dasar anak haram! Lihat apa yang kamu perbuat kepada ibuku," teriak sang kakak marah.

Amarah sang ayah tercabik kembali melihat anak kesayangannya menguapkan kebencian kepada Ia. Sang ayah dengan tubuh besarnya mendekati Ia yang masih diam terduduk. Ia menatap kosong tatkala dilihatnya sang ayah memegang sabuk kulit di tangan kanannya. Sejurus kemudian Ia pingsan saat sabuk kulit mengiris kulitnya untuk kesekian kali.

"Ia, bangunlah," sebuah suara menghipnotis alam sadarnya. Ia terbangun. Namun tidak dilihatnya seorangpun. Hanya bunyi air hujan yang turun semakin deras yang didengarnya. Tubuhnya terlentang menatap langit. Teronggok tak berdaya.

"Syukurlah kamu sudah terbangun," ujar suara itu lagi. Ia yakin dirinya sudah terbangun. Namun tidak dilihatnya siapapun disekitarnya.

"Aku disini, didekatmu," suara itu kembali terdengar.

"Siapa kau?" tanya Ia bingung. Tubuhnya masih diam, terbujur kaku di pekarangan rumahnya.

"Aku sang hujan. Aku datang karena lelehan air matamu menemuiku. Air matamu memintaku untuk menolongmu."

Ia tidak menjawab. Air matanya semakin deras mengucur. Rasa bahagia menyeruak di hatinya.

"Ada yang ingin menolongku," ucap Ia dalam hati. Ia tidak perduli siapa itu sang hujan. Yang terpenting, ada yang ingin menolongnya. "Mudah-mudahan ini bukan mimpi," ucapnya lagi
.
"Percayalah kepadaku," sang hujan meyakinkannya.

Pelan-pelan dirasakannya rasa sejuk menyelimuti sekujur tubuhnya. Setiap titik hujan bagaikan obat penawar sakit yang membasuh rasa perih dan ngilu lalu membuangnya jauh ke dalam tanah. Sinar kilat dan petir menyambar-nyambar membentuk tarian penyembuh luka. Memberinya napas dan mengangkat tubuhnya yang mampu membuatnya bangkit dan berdiri.

Sejak itulah Ia mencintai hujan. Hujan selalu datang saat air matanya mulai mengalir. Hujan dengan gemuruh dasyatnya selalu menemani disaat hatinya dirundung kesedihan. Hujan menjadi sahabatnya kini.

Suatu malam Ia tersentak kaget ketika sepasang tangan menggerayanginya kasar. Napasnya terasa sesak saat tubuh tinggi besar menindihnya tiba-tiba.

"Pria ini datang lagi," gumam Ia tanpa suara. Ia menangis. Hatinya berontak. Tetapi tubuhnya lunglai tak berdaya. "Jangan perkosa aku lagi!" kata Ia lirih.

"Diam! Atau aku akan membunuhmu," suara itu bak pedang, siap membacok. Suara ayah tirinya! Dia kembali menyakiti jiwanya yang bingung dan terluka.

Hati Ia berkecamuk. Lapat-lapat didengarnya langit batuk dengan petir dan kilat yang bergemuruh. Sesekali petir dan kilat menyambar memekakkan telinga. Jiwa Ia menangis lalu bergulir jatuh di pipinya. Hujan turun dengan lebatnya. Ia menangis semakin keras dan menjerit. Seketika itu pula petir menyambar pohon Mangga yang terletak persis di sebelah kamarnya.

Kejadian itu menyelamatkan Ia. Hujan menjadi dewa penyelamatnya.

Hujan menjadi pelipur lara dan guru sejarah yang menyenangkan. Ia datang dengan membawa sejuta cerita. Di saat Ia dicaci maki oleh ayah tirinya, Ia tidak perduli karena hujan datang membawa cerita mengenai indahnya bunga Sakura di Jepang. Hujan mengiringi langkahnya sambil menceritakan keajaiban candi Borobodur sewaktu teman sekelasnya mengejeknya dengan panggilan anak haram.

"Bawalah aku pergi," pinta Ia suatu ketika. "Aku ingin tahu dimana negeri-negeri yang kamu pernah ceritakan. Apa itu tembok besar di Cina? Seperti apa bunga Sakura di Jepang? Aku ingin melihat Borobudur. Hujan, bawalah aku pergi."

Hujan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lalu berlalu pergi.

Ia membenci musim kemarau. Kemarau membuatnya seperti hewan buruan. Dikejar beramai-ramai. Ditangkap dan diseret penuh luka. Tidak ada lagi yang menemaninya berbicara di kala sepi. Tidak ada yang melindunginya di saat ayah tirinya memperkosanya di malam buta. Tidak ada yang perduli kala teman-teman sekelasnya mengejek dirinya.

"Hujan, aku rindu dirimu," Ia berucap tatkala hujan mengetuk jendela kamarnya.

"Aku juga rindu," kata hujan sedih. Hujan mendapati Ia terpuruk di sudut kamarnya. Ia memandangnya dengan sorot mata sendu dan kosong. Hujan memekik lirih melihat Ia tak ubahnya seperti mayat hidup.

Hujan meratapi nasib Ia. Hujan menggeliat ngeri merasakan kepahitan yang Ia alami. Lalu hujan mengubah sakit Ia menjadi musibah banjir di Bangladesh. Hujan menjadikan luka Ia menjadi hujan badai di benua Amerika. Rasa perih Ia telah memporak porandakan banyak tempat di belahan bumi. Ia tidak perduli. Ia tidak sedih. Tidak seorangpun perduli dan sedih saat Ia berjuang sendiri bertahan hidup.

"Bawalah aku pergi bersamamu. Aku tenang di bening tubuhmu. Aku damai di indah rintik suaramu. Jangan biarkan aku kering layu bila kemarau menggantikanmu."

"Baiklah," jawab hujan lembut. Kali ini hujan tidak berlalu pergi. Suara petir dan kilat menggelegar bersahut-sahutan seakan menyetujui keinginan Ia.

Rintik hujan menghiasi bumi seminggu lamanya. Pesona langit diruntuhkan gelapnya awan hitam. Suasana ramai nampak di sebuah perumahan elit Jakarta. Suara orang memanjatkan doa terdengar di setiap sudut ruangan. Seorang wanita menangis tersedu-sedu meratapi sesosok tubuh yang terbaring diam di tengah ruang tamu.

"Ia tersambar petir kemarin sore," bisik seorang pria.

"Anehnya tidak ada tanda-tanda hangus di sekujur tubuhnya," bisik pria yang lain. "Tubuhnya bersih bak embun pagi. Bahkan kesejukan terasa di tempat dimana Ia dibaringkan. Sepertinya alam sengaja mengambilnya."

Ia tersenyum bahagia. Ia telah bersatu bersama sahabatnya. Ia sudah membayangkan perjalanan mengasyikkan mengelilingi setiap celah di seluruh penjuru planet biru. Ia dan hujan saling bertatapan. Mereka tertawa dan menari di kumpulan awan hitam dan silaunya kilauan petir dan kilat. Gerakan mereka terhenti tatkala bayangan pria berkelebat hendak meninggalkan rumah itu. Pria itu adalah ayah tirinya.

Blarr!! Petir menghujam tanah, tidak berapa jauh dari tempat dimana pria itu berdiri. Pria itu terpental hingga ke teras depan rumah. Jeritan orang-orang yang kaget tersapu oleh hadirnya hujan yang turun teramat deras secara tiba-tiba.

Satu hari sebelum hujan membawa Ia pergi, ayah tirinya kembali memulai ritualnya. Mengomel, memaki dan mengumpat.

Saat itu hujan membasahi bumi. Ia sengaja berlari ke pekarangan tatkala sang ayah mengejar dengan menghunus sabuk kulitnya. Kali ini Ia tidak takut. Kali ini sebuah senyuman menyeringai di bibirnya. Pandangan matanya beku membentuk es abadi.

Sang ayah tiri bergidik takut melihat Ia.

Duar!! Petir bagaikan bom waktu yang meledak disekitar tubuh sang ayah. Sang ayah hendak pergi berlari namun rintik hujan telah mengurungnya seperti seorang narapidana terpenjara di bui.

Ia melangkah mendekati sang ayah. "Selama musim hujan masih mengguyur semesta, satu jengkal langkah saja dari bilik rumah ini kau tinggalkan, aku pastikan petir dan kilat akan menghancurkan tubuhmu!" janji Ia sambil mengacungkan jari telunjuknya ke udara.

Suara petir dan kilat laksana gendang yang ditabuh. Bertalu-talu mengiyakan ucapan Ia. Mengamini keinginan Ia. Detik itulah hujan membawa Ia pergi.

Sang ayah kembali bergidik ngeri. Sekujur tubuhnya merah seakan terbakar. Baju dan celana sobek compang-camping. Bau hangus tercium di rongga hidungnya.

Saat itu bulan Juli 1999. Itulah janji, dari seorang bocah laki-laki kecil, bernama Ia. Janji Ia yang mencintai hujan

Monday, January 17, 2005

Pesona Alam Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting. Mungkin Anda akan tersenyum geli ketika mendengar atau membaca nama taman nasional ini dan mungkin nama ini terdengar asing di telinga Anda. Namun tidak bagi artis peraih piala OSCAR, Julia Roberts. Kalau Anda menanyakan perihal Tanjung Puting kepadanya, pastilah dia akan tersenyum. Namun bukan tersenyum geli tetapi senyum penuh semangat dan pastinya dia akan menjawab, " Of course I know that place. The Garden of Eden." Penasaran?

Taman Nasional Tanjung Puting merupakan salah satu keajaiban alam di dunia. Taman ini merupakan kawasan pelestarian alam yang sangat penting untuk melindungi flora dan fauna khas pulau Kalimantan. Terletak di Pangkalan Bun, ibukota salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah, yaitu Kotawaringin Barat dengan cakupan area sekitar 415.040 hektar menjadikan taman ini sebagai hutan tropis terbesar yang dilindungi di kawasan Asia Tenggara. Awalnya Tanjung Puting didirikan sebagai suaka margasatawa pada tahun 1935 dan pada akhirnya dinyatakan sebagai taman nasional sejak 1982.

Tanjung Puting tidak hanya kaya akan keanekaragaman floranya yang terdiri dari ratusan jenis pohon, bunga anggrek serta tumbuhan tropis lainnya, namun juga merupakan rumah bagi berbagai macam spesies binatang, salah satunya yang terkenal adalah Orang Utan. Belum lagi dengan adanya spesies Bekantan, monyet berhidung besar yang di dunia hanya bisa ditemukan di pulau ini menjadikan Tanjung Puting sebagai salah satu harta kekayaan terpenting di propinsi Kalimantan Tengah bahkan di dunia.

Wisata Sungai Sekonyer
Hari masih pagi ketika aku tiba di teluk Kumai. Hari itu aku nimbrung rombongan les bahasa Inggris yang melakukan wisata alam ke Camp Leakey, salah satu tempat di Taman Nasional Tanjung Puting yang merupakan tempat reservasi orang utan.

Tepat pukul 07.30 WIB, sebuah klotok yaitu perahu kayu sederhana berlantai dua membawa kami meninggalkan teluk Kumai. Seorang teman mengatakan kalau perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 3 jam. Sebenarnya kami bisa saja pergi menggunakan speedboat agar perjalanan ini lebih cepat tetapi sepertinya aku ingin menjadi Indiana Jones yang berpetualang menggunakan alat seadanya daripada James Bond yang selalu menggunakan alat super canggih dalam setiap petualangannya.

Tak berapa lama, kami sampai di sungai Sekonyer yang merupakan pintu gerbang menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Pemandangan kiri kanan sepanjang sungai berganti dengan tumbuhan nipah yang mendominasi. Sesekali tampak nelayan memancing menggunakan alat pancing sederhana dengan perahu kecilnya. Ketika aku menanyakan keberadaan sebuah rumah yang dibangun seadanya dekat pinggir sungai kepada salah seorang temanku, jawabannya membuatku trenyuh. Apalagi kalau bukan penebangan hutan liar. Sedikitnya 40% populasi hutan di sekitar taman nasional telah punah akibat illegal logging ini. Keadaan semakin diperparah akibat kebakaran hutan yang pernah melanda hutan di Kalimantan. Belum lagi dengan adanya penambangan emas di sepanjang sungai semakin merusak ekosistem sungai dan sekitarnya.

Namun aku cukup terhibur ketika perahu klotok semakin jauh memasuki taman nasional ini. Kami terbius dengan suasana sepanjang sungai yang begitu damai. Pepohonan hutan tropis yang membentuk kanopi membuat jalan yang kami lalui menjadi teduh. Tumbuhan di sepanjang sungai berganti dengan tumbuhan belukar dan rawa rumput serta bentangan bakung yang mengapung. Air yang semula berwarna coklat kini berubah warnanya menjadi hitam. Bukan karena polusi, tetapi karena pengaruh akar pepohonan di sepanjang sungai menuju Camp Leakey. Sungguh suatu fenomena alam yang menakjubkan.

Camp Leakey
Akhirnya kami sampai setelah tiga jam lebih menempuh perjalanan. Jembatan sepanjang 200 meter terbuat dari kayu ulin yang mengantar kami menuju Camp Leakey. Camp ini didirikan tahun 1971 oleh Dr. Birute Galdikas untuk mendukung kegiatan penelitian di Taman Nasional Tanjung Puting ini. Selama bertahun-tahun Camp Leakey menjadi tempat bagi para ilmuwan maupun pelajar dalam melakukan penelitan dan observasi orang utan.

Kami menuju sebuah rumah permanen yang bertuliskan Orang Utan Foundation International (OFI). Di sana kami sudah ditunggu oleh pemandu wisata menuju tempat pemberian makan untuk orang utan atau biasanya disebut feeding. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh kehadiran induk orang utan dan bayinya yang tanpa takut menghampiri kami. Innocent look sang induk yang memberanikan kami untuk mendekati mereka. Belum lagi wajah sang bayi yang terlihat lucu dan begitu manja membuat kami semua berlomba-lomba untuk mencari perhatian. Sayangnya peraturan di kawasan ini tidak memperbolehkan kami untuk menyentuh bahkan memberi makan mereka.

Jalan menuju feeding berupa jalan setapak pada awalnya. Beberapa meter kemudian, jalan setapak berubah dengan deretan papan kayu ulin yang membantu memudahkan kami berjalan. Perjalanan sepanjang 2 km tidaklah membosankan karena banyak hal yang dapat kami amati. Beberapa kali kami melihat papan nama ditancapkan di beberapa pohon menerangkan nama pohon-pohon tersebut, seperti : ramin, merang, meranti, idur beruang dan masih banyak lainnya lengkap dengan nama latinnya.

Suara orang utan yang bersahutan membuat kami semakin bersemangat untuk segera sampai. Dari kejauhan kami dapat melihat rombongan turis asing tengah asyik mengambil gambar aktifitas Orang Utan. Saat itu mereka masih bergelantungan di batang pohon dan sebagian lagi duduk bermalas-malasan di bawah pohon.

"Kalian beruntung," ucap pemandu wisata kami. "Kalian beruntung karena dapat melihat kumpulan Orang Utan dalam jumlah yang besar," ucapnya lagi sambil menunjuk gerombolan Orang Utan. Memang saat itu ada sekitar 4 pasang induk betina dan bayi Orang Utan serta Orang Utan jantan di tempat feeding

Yang menjadi pusat perhatian kami adalah ketika seekor Orang Utan menghampiri tempat feeding. Tempat feeding itu dibuat sederhana dari kayu Ulin dan dibuat seperti lantai rumah panggung. Sebelum mengambil sebuah pisang, dia mengamati kami yang hendak mengambil gambarnya. Pandangannya membuat kami mundur karena takut kalau-kalau dia akan menyerang kami. Namun kami menarik napas lega, ketika dia langsung berdiri dan bergaya. Mungkin dia mengetahui bahwa kami akan mengambil gambar dirinya. Decakan kagum keluar dari beberapa orang turis yang dengan antusias mengabadikan momen itu. Tak mau kalah, sang anak menyusul tak lama kemudian. Dan lagi-lagi keduanya bergaya dengan pose yang membuat kami tertawa dan terkagum-kagum.
Pemandu tur kami menjelaskan kalau umur Orang Utan disini sudah puluhan tahun. Bahkan yang tertua berumur lebih dari 50 tahun. Kosasih namanya. Disini semua Orang Utan mempunyai nama sendiri-sendiri. Nama itu kebanyakan diberikan oleh para turis yang kadung jatuh cinta dengan mereka. Boleh jadi nama Orang Utan di sini sama dengan nama Anda dan tentunya Anda tidak boleh protes dengan hal ini.

Suasana menjadi gaduh ketika di satu pohon yang menjadi tempat pijakan sepasang induk betina dan bayi Orang Utan mendadak jatuh. Tanpa dikomando, Orang Utan lainnya yang bergelantungan langsung bergerak menolong mereka. Lalu adegan yang kami lihat tak ubahnya seperti adegan pada film Tarzan. Orang Utan yang satu bergelantungan dari batang pohon yang satu ke yang lainnya dan Orang Utan lainnya berayun-ayun.
Kami semua bernapas lega ketika menyaksikan sang induk dengan sigap menggapai batang pohon lainnya dan segera membopong anaknya hingga keduanya selamat. Aksi ini cukup menjadi tontonan yang seru. Apalagi setelah mengetahui kalau aksi tersebut ditonton oleh orang banyak, sang induk dengan gayanya yang khas melambaikan tangan kanannya. Lagi-lagi kami semua tertawa dan sebagian lagi bertepuk tangan. Sungguh suatu pemandangan yang langka mengingat pertunjukan tadi tak ubahnya seperti adegan sirkus profesional. Tak heran rasanya kalau banyak sekali turis asing yang berbondong-bondong datang ke tempat ini, tak terkecuali artis dunia sekaliber Julia Robert yang konon kabarnya rela menginap beberapa hari di sekitar Camp untuk melihat lebih jauh kehidupan satwa langka ini.

Agak berat rasanya ketika kami memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Namun hari telah menjelang sore, lagipula beberapa ekor Orang Utan telah pergi masuk ke dalam hutan. Kami kembali menyusuri trekking menuju Camp Leakey. Perjalanan kami terhenti sesaat ketika di tengah perjalanan ketika kami bertemu dengan seekor induk betina dan anaknya. Tak puas rasanya memandang gaya dan tingkah laku mereka yang membuat kami betah berlama-lama memandanginya. Namun kami harus segera meninggalkan tempat itu karena kami masih mempunyai satu tujuan lagi yaitu Rimba Lodge , sebuah cottage di pinggiran sungai Sekonyer berbatasan dengan taman nasional yang diperuntukkan bagi siapapun yang ingin menginap di lokasi taman nasional.

Kami kembali menuju tempat dimana klotok kami berlabuh. Sesampainya disana, ternyata ada beberapa klotok yang berjejer di samping dan depan klotok kami. Umumnya klotok itu disewa oleh turis selama beberapa hari. Peraturan Camp Leakey tidak memperbolehkan siapapun untuk menginap di Camp. Karena itulah banyak sekali turis asing yang rela tidur di klotok di pinggir sungai selama beberapa hari lamanya. Memang untuk menikmati keajaiban alam di Tanjung Puting, satu atau dua hari tidaklah cukup. Butuh tiga sampai lima hari untuk menyaksikan itu semua. Karena itulah klotok yang dipakai sedikit istimewa dengan adanya shower dan closet duduk di bagian belakang klotok. Tetapi jangan coba-coba berenang di sepanjang aliran sungai ini karena banyak buaya yang berdiam di balik tumbuhan di pinggir sungai. Aku bergidik ngeri begitu mendengar cerita bahwa satu tahun yang lalu seorang turis berkebangsaan Inggris tewas dimakan buaya karena tidak mengindahkan aturan untuk tidak berenang di sekitar Camp Leakey.

Kerajaan Kera dan Istana Terapung
Kembali kami menyusuri aliran sungai hitam menuju Rimba Lodge. Aku sedikit kecewa sewaktu mengetahui Kosasih, Orang Utan tertua, berada di sekitar Camp untuk bermain tepat ketika kami mulai meninggalkan Camp. Namun seorang teman menghiburku bahwa keajaiban eksotika di sepanjang sungai taman nasional baru akan dimulai sore ini. Setelah beberapa saat menyusuri aliran sungai, barulah aku mengerti apa yang dimaksud oleh temanku ini. Aku seperti berada di negeri monyet dengan munculnya Bekantan dan monyet kecil berekor panjang di setiap pohon di sepanjang sungai. Warna kedua fauna itu ada yang merah kecoklatan dan abu-abu.

Teriakan-teriakan kecil dari kedua fauna menambah sensasi tersendiri yang membuat kami semua benar-benar terpana. Belum lagi sesekali kami melihat burung betet beraneka warna terbang melintasi sungai. Ditambah dengan sinar matahari sore yang menyelusup di rindangnya pepohonan dan gerimis hujan yang mengiringi kepergian kami membuat perjalanan sore itu kusebut dengan wild romantic journey. Aku tersenyum sendiri membayangkan suatu saat nanti mungkin tempat ini akan kujadikan sebagai tempat berbulan madu.

Kami tiba di Rimba Lodge sekitar pukul 7 malam. Kami mengunjungi seorang teman berkebangsaan Amerika yang tinggal di sana untuk melakukan penelitian mengenai monyet. Ini kali pertama aku mengunjunginya dan lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan tempat ini. Tempat ini tak ubahnya seperti istana terapung. Begitu memasuki lebih dalam, tempat ini terlihat luas dengan adanya beberapa cottage yang didirikan secara terpisah, tempat meeting bahkan tempat bermain bola sodok atau billiard ada di tempat ini. Sayangnya, kami tak punya waktu banyak berlama-lama di tempat ini.

Suasana malam di sepanjang sungai tak ubahnya seperti di dalam hutan. Gelap gulita dan sunyi. Tak banyak yang bisa kami amati. Namun itu tidak mengubah keinginanku untuk tetap menyaksikan kehidupan malam di sepanjang sungai.

Perjalanan berakhir ketika klotok kami membelok dari Sungai Sekonyer menuju Teluk Kumai yang terlihat cantik dengan kerlap-kerlip sinar lampu dari rumah penduduk. Jam hampir menunjukkan pukul 9 malam ketika kami tiba di Teluk Kumai. Lucunya, aku belum mau beranjak pergi. Rasanya aku masih ingin sekali lagi pergi mengunjungi The Garden of Eden. Perjalanan ini terlalu singkat. Ahh, mungkin suatu saat nanti aku benar-benar bisa seperti Indiana Jones dengan tinggal di klotok selama beberapa lama di pinggiran sungai Camp Leakey atau seperti temanku yang berkebangsaan Amerika itu, tinggal di tengah hutan untuk melihat lebih jauh kehidupan satwa langka di Tanjung Putting. Mudah-mudahan itu bukan mimpi.






Friday, January 14, 2005

The Tears Of The Earth's Son

My Star…
You wouldn’t realize
How deep you put your light of love into my heart

My Angel…
How lonely life would be when your wings leaving me behind…
I don’t know what and who I would be now…
My heart had disappear
My soul had gone already
But my body couldn’t leave the emptiness inside me

My angel…
I’m trying to fly… hoping to reach you there
But….
I couldn’t fly…
I’m here in the earth and you’re there in sky high above
My star…

I’m trying to shine… hoping you see me and know
That I’ll be just fine
But…
I couldn’t shine…
Coz you – love of my life – are mine no more

Lyrics: Joe


Melati Di Bumi Mentaya

MELATI DI BUMI MENTAYA

Sampit. Hari menjelang sore ketika akhirnya kujejakkan juga kakiku di kabupaten ini. Kabupaten kecil di Propinsi Kalimantan Tengah ini akan menjadi tempatku bekerja entah untuk berapa lama. Keputusan yang cukup sulit untuk menentukan apakah aku akan kesana atau tidak telah menghantuiku lebih dari satu bulan lalu.

Sampit memang lebih kecil bila dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Kalimantan. Mudah sekali bila menemukan gedung perkantoran atau mini market di sini. Tak banyak nuansa modern yang bisa ditemukan di tempat ini. Sampit terlihat lengang dan tak tampak aktifitas yang berarti. Kabarnya hampir setengah penduduknya telah berkurang, mengungsi akibat pertikaian etnis yang terjadi sekitar 3 tahun yang lalu. Pihak travel mengantarkanku ke kantor tempatku bekerja di sekitar jalan HM. Arsyad. Aku disambut Bapak Nurdin selaku kepala cabang. Kami sudah bertemu sebelumnya di Banjarmasin ketika ada acara pergantian kepala wilayah se-Kalimantan.

"Selamat datang di Sampit," ucapnya sembari tersenyum. "Bagaimana perjalanan dari Banjarmasin ke Sampit?" tanyanya kemudian.

"Lumayan Pak," jawabku singkat. Perjalanan menuju Sampit lewat Banjarmasin terpaksa kutempuh melewati jalan darat. Jadwal penerbangan terpaksa dibatalkan tanpa batas waktu karena kabut tebal akibat kebakaran hutan yang melanda propinsi Kalimantan Tengah saat itu telah mencapai titik yang mengkawatirkan.

"Melati Dinihari," ucapku sewaktu memperkenalkan namaku dengan karyawan setempat. Satu persatu karyawan memperkenalkan diri. Pak Nurdin sekali-kali menimpali perkenalan kami dengan menyebutkan jabatan mereka masing-masing. Setelah diberi instruksi mengenai keadaan umum kota ini, kepala cabang memperbolehkanku pergi.

"Saya minta maaf tidak bisa mengajakmu makan malam nanti. Istri saya baru saja tiba dari Medan tadi pagi," ucapnya kemudian.

"Tidak usah repot-repot, Pak" jawabku. "Saya berencana untuk beristirahat di hotel saja malam ini. Lagipula saya masih punya persediaan biskuit dan coklat. Saya rasa itu sudah lebih dari cukup untuk pengganti makan malam."

"Sebaiknya kamu batalkan rencanamu untuk tinggal di hotel saja malam ini. Zaenal bersedia menggantikan saya mengajakmu keliling kota Sampit. Dia juga bersedia menunjukkan dimana tempat yang enak untuk makan. Kalian bisa makan malam bersama nanti," Pak Nurdin memberi saran.

"Zaenal adalah karyawan bagian umum dan ketenagakerjaan. Dia termasuk karyawan baru seperti kamu. Baru beberapa bulan bekerja di cabang kita. Kamu belum sempat berkenalan dengannya tadi karena dia sedang berada di luar kantor, mengurus materi promosi untuk program di cabang kita bulan ini."

Sebetulnya aku lebih senang untuk tinggal di hotel saja malam ini. Perjalanan darat yang kutempuh selama hampir 7 jam cukup membuat tubuhku pegal-pegal. Namun setelah kupikir lagi, tidak ada salahnya aku mengikuti saran Bapak Nurdin, pergi makan malam dan keliling kota bersama Zaenal.

"Hitung-hitung wisata gratis, Din" candanya ketika aku mulai meninggalkan kantor menuju hotel.

Malam itu, Sampit terlihat semarak dengan lampu warna-warni yang menghiasi hampir setiap sudut jalan. Umbul-umbul bendera berbagai warna juga tak ketinggalan menghiasi kota. Sekitar jam 7 malam, Zaenal menjemputku di lobi hotel.

"Maaf, saya terlambat," ucapnya ketika kami mulai meninggalkan hotel. "Saya harus membuat laporan pengadaan barang dahulu."

"Tidak apa-apa. Aku juga harus membereskan barang-barang terlebih dahulu," kataku berusaha menghilangkan rasa bersalahnya.

"Sudah lama menunggukah?" tanyanya.

"Tidak juga. Saya baru selesai mandi ketika petugas hotel memberitahu kedatanganmu." Aku tersenyum mendengar logat bicaranya. Aku perhatikan penduduk Kalimantan biasa menggunakan partikel kah atau lah dalam bahasa pergaulan sehari-hari. Awalnya aku mengalami kesulitan memahami dialeg tersebut apalagi bila dialeg ini diucapkan secara cepat. Namun lama kelamaan kupingku mampu menangkap dialeg tersebut walaupun kadang-kadang masih terdengar lucu dan janggal.

"Beginilah Sampit menjelang peringatan 17-an, Mba" jelasnya sewaktu mobil mulai meninggalkan hotel. "Kota kecil ini baru terlihat lebih hidup ketika ada acara-acara tertentu saja."

"Jangan panggil Mba," seruku setengah protes. "Kamu cukup memanggilku Din atau Dini. Pak Nurdin mengatakan kepadaku kalau kita seumuran," jelasku untuk menghilangkan kekikukan diantara kita berdua.

Zaenal langsung mengajakku makan malam di sebuah rumah makan apung di sekitar sungai Mentaya. Rencana keliling kota Sampit malam itu diundur setelah makan malam. Suasana sungai tampak ramai, terlihat dari sejumlah kapal besar yang berlabuh di sekitar sungai. Perahu kecil atau penduduk setempat biasa menyebutnya klotok yang membawa penumpang beberapa kali hilir mudik melintas melewati rumah makan dimana kami berada.

"Sampit terlihat cantik," pujiku dalam hati.

Zaenal menjadi teman bicara yang menyenangkan. Banyak sekali hal yang kami obrolkan. Kami tidak ubahnya seperti teman lama yang baru saja bersua. Tiba-tiba saja aku menemukan sosok yang berbeda dari diri teman baruku ini. Entah apa yang membuatku turut merasakan setiap hal yang dia ceritakan. Aku yang cenderung tertutup untuk menceritakan kehidupan pribadiku, terlebih-lebih dengan orang yang baru kukenal, kali ini seakan-akan aturan tidak tertulis itu tidak berlaku baginya.

Zaenal merupakan salah satu warga pendatang. Ayah dan ibunya berasal dari Pamekasan, Madura. Dia anak bungsu dari 3 bersaudara. Dia dan kedua kakaknya lahir dan besar di Sampit. Itulah sebabnya dia lebih merasa sebagai orang Kalimantan daripada orang Madura. Ayahnya yang mantan guru di sebuah sekolah kecil memutuskan untuk mengadu nasib di kota ini lebih dari 30 tahun yang lalu. Pada umur 22 tahun, Zaenal bekerja pada sebuah perkebunan kelapa sawit di daerah Pundu, sekitar 90 km dari kota Sampit. Disanalah dia bertemu dengan Runesi, wanita muda keturunan Dayak yang bekerja sebagai pekerja harian. Perkenalannya dengan Esi, begitu nama panggilannya, ketika suatu waktu Zaenal menolong wanit itu dari lilitan ular phyton.

"Perkebunan itu terletak di tengah hutan belantara, Din. Ular adalah binatang yang biasa dijumpai sehari-hari oleh para pekerja," jelasnya ketika melihat perubahan ekspresi wajahku karena terkejut. "Kami terbiasa melihat segala jenis ular karena setiap pagi ketika kami berangkat atau setiap sore ketika kami pulang ke barak, ular-ular itu biasa dijumpai di bawah barak kami yang berupa rumah panggung," jelasnya lagi.

"Pekerja di perkebunan tersebut hidup tanpa penerangan yang cukup. Fasilitas MCK kami hanya sebuah sungai yang terletak tidak jauh dari barak dimana kami tinggal. Alat elektronik yang dapat kami nikmati hanyalah sebuah mini compo. Tak heran banyak pekerja di sana yang mendapat jodohnya sesama pekerja juga. Tak terkecuali kami berdua," kenangnya sembari tersenyum.

"Kehidupan sederhana di barak itulah yang menimbulkan kedekatan di antara kami. Kami berdua saling menghibur dan menguatkan satu sama lain. Esi yang merawatku sewaktu aku terserang penyakit Malaria sewaktu masih di perkebunan."

Ekpresi di wajahku kembali berubah. Kali ini bukan karena terkejut namun lebih karena rasa haru yang meliputi dadaku mendengar penjelasannya. Rasa haru mengingat begitu tabahnya mereka bekerja untuk bertahan hidup. Tak terbayang jika diriku yang harus bekerja seperti mereka, di tengah hutan belantara yang penuh resiko.

Zaenal membuka dompetnya dan memperlihatkan foto seorang wanita. "Ini Esi," ucapnya memberitahuku. Zaenal mengulurkan tangan kanannya agar aku dapat melihat foto itu dengan baik. Esi berambut panjang sebahu, serasi dengan kulitnya yang putih. Lesung pipit di kedua pipinya semakin membuatnya terlihat menarik.

"Dia cantik," kataku memuji. "Dimana dia sekarang?" tanyaku sembari mengembalikan foto tersebut.

Sejenak Zaenal terdiam tak menjawab pertanyaanku. "Esi sudah meninggal. Dia termasuk salah satu korban dalam kerusuhan lalu," jawabnya sambil memasukkan foto itu ke dalam dompetnya. Ekspresi di wajahku kembali berubah. Aku tak mampu berkata-kata mendengar ucapannya. Kudengar dia menarik napas panjang. Kuelus punggungnya setengah menepuk untuk menunjukkan rasa simpati yang dalam.

Pembicaraan kami terputus sesaat ketika seorang pelayan mulai menyajikan makanan yang kami pesan.
"Kami dulu sering ke rumah makan ini," suaranya memecah keheningan. "Beberapa bulan setelah kami pacaran, Esi tidak bekerja lagi di perkebunan dan tinggal di rumah orang tauku di Sampit. Keluarga di kedua belah pihak sepakat untuk melangsungkan pernikahan kami secepatnya. Namun sebelum itu terjadi, kerusuhan sudah melanda kota ini," ucapnya sendu.

Aku hanya terdiam. Ceritanya yang cukup mengejutkan ini mampu menghapus selera makanku. Rasa lapar yang kurasakan sejak kami meninggalkan hotel seolah sirna terhapus atmosfir kesedihan yang turut kurasakan juga. Bayangan ngeri sewaktu-waktu pertikaian tersebut kembali terjadi sesaat menghantui pikiranku.

"Tenang, Din. Sampit sudah aman sekarang," kata-katanya mengagetkanku. "Penduduk asli sudah menerima penduduk pendatang untuk menetap di sini. Warga pendatang pun telah menghargai hak-hak penduduk asli. Kami sudah hidup damai berdampingan seperti dulu lagi," jelasnya berusaha menenangkanku.

Aku sedikit bingung dengan teman baruku ini. Entah apa yang membuat Zaenal bisa membaca pikiranku.

"Syukurlah kalau begitu." Jawaban itu saja yang keluar dari mulutku.

"Hidup ini memang aneh," ucapku dalam hati. "Siapa sangka di tempat yang berjarak beratus-ratus kilometer dari Jakarta, aku menemukan seseorang yang juga kehilangan orang yang sama-sama sangat kami cintai."
Satu persatu lembaran masa lalu mengisi memori di kepalaku.

"Kamu yakin mau bekerja di Kalimantan, Din?" Pertanyaan itu sering kali ditanyakan sewaktu aku menyempatkan diri memberikan kabar mengenai kepergianku kepada beberapa teman dekatku. Apalagi sewaktu mereka mengetahui bahwa tempat tujuanku bekerja adalah Sampit. Berbagai komentar bernada miring tak ayal menghujaniku silih berganti.

"Mungkin sudah jalanku harus bekerja di sana. Lagipula sudah keinginanku untuk bekerja di luar Pulau Jawa." Jawaban itu saja yang bisa kuberikan menghadapi pertanyaan-pertanyaan ragu yang dilontarkan oleh beberapa teman dekatku. Mereka tidak perlu tahu apa penyebabnya. Mereka tidak perlu mengetahui bahwa alasan aku pergi lebih disebabkan karena aku ingin melupakan Rama, pria yang selama ini mereka kenal sebagai kekasihku. Aku dan Rama sudah tidak bersama lagi. Kebersamaan kami selama 5 tahun akhirnya harus terhenti karena Rama memutuskan tidak ada kecocokan di antara kami.

"Sori, Din. Aku sudah tidak nyaman dengan hubungan ini. Aku rasa hubungan ini harus berakhir." Kalimat itu terus saja berputar di kepalaku tanpa aku bertanya kenapa. Hari-hari terakhir kebersamaan kami memang dilewati dengan begitu banyak kerenggangan dan pertengkaran. Namun, mengakhiri hubungan ini bukanlah hal yang ada dibenakku.

Kulayangkan pandanganku ke arah pasar apung yang terletak tidak jauh dari tempat kami makan. Sejenak aku tenggelam menikmati rutinitas sederhana masyarakat sekitar. Aku bisa duduk berjam-jam mengamati tingkah laku orang ketika menawar barang dagangan yang mereka beli. Apalagi ada kepuasan tersendiri di batinku melihat ranumnya buah-buahan, sayur mayur yang segar dan berbagai rupa jajanan pasar yang kerap dijumpai di pasar tradisional.

Kulihat Zaenal sudah tidak terpengaruh dengan ceritanya barusan. Dia terlihat lahap menyantap hidangan yang berupa ikan patin bakar lengkap dengan lalapan dan sambal.
2 minggu sebelum kuputuskan berangkat ke Kalimantan, aku menerima kabar yang cukup mengagetkan. Rama berpacaran dengan Laras.

"Din, Rama sekarang menjalin hubungan dengan Laras," ucap Eko, karibku. Dia diam sejenak. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya kemudian.

"Aku tidak apa-apa," jawabku pendek.

Lalu dengan singkat, karibku menjelaskan kronologis kejadian itu. Aku tidak berkata sepatah katapun mengenai penjelasannya. Laras sudah kuanggap teman baikku. Aku banyak bercerita mengenai hubunganku dengan Rama walaupun tidak sampai hal yang detail. Aku tidak mudah menceritakan hubunganku dengan Rama kepada orang lain terlebih-lebih kepada seseorang yang mempunyai rasa suka kepada Rama.

"Dia bukanlah tipe pria yang aku suka, Din" ujarnya suatu kali menanggapi pertanyaanku tentang perasaannya kepada Rama. Entah mengapa waktu itu aku bertanya. Buktinya toh sekarang dia menerima Rama menjadi pacarnya. "Hatiku luluh karena Rama begitu perhatian dan sayang kepadaku," jelasnya ketika aku menyempatkan diri mengucapkan selamat atas kebersamaan mereka.

"Kamu tidak makan?" pertanyaan Zaenal menggugah lamunanku. "Ikan Patinnya nanti loncat ke sungai lagi lho," candanya. "Kamu pasti menyukai masakan di rumah makan ini. Bupati Sampit termasuk salah satu langganan di sini," ujarnya berpromosi.

Promosinya ternyata bukan isapan jempol belaka. Lidahku tidak menolak rasa ikan maupun sambal yang dihidangkan. Hampir satu bulan keberadaanku di Kalimantan, aku menemui kesulitan dengan cita rasa dan jenis makanan di pulau ini. Sejak kedatanganku di Balikpapan, Samarinda dan Banjarmasin, baru kali ini aku menunjukkan nafsu makan yang boleh dibilang normal. Untuk sementara, aku sibuk mempreteli daging ikan Patin yang konon tidak boleh dimakan oleh penduduk keturunan Raja-raja di propinsi Kalimantan Tengah ini.

Sejam kemudian, Zaenal kemudian membawaku ke sebuah taman kota yang terletak tidak jauh dari hotel tempatku menginap. Taman kota terlihat ramai oleh kerumunan masa menyaksikan persiapan malam tujuh belasan di kota itu. Sebuah panggung besar berdiri megah dilengkapi dengan sound stereo di kedua sisinya.

Zaenal sedikit memberi penjelasan bahwa malam Agustusan nanti akan dihadiri oleh pejabat daerah setempat, sedangkan hiburan yang akan disuguhkan adalah acara musik yang dibawakan grup musik lokal. "Kamu pasti akan terbengong-bengong melihat kerumunan masa yang membludak nantinya," jelasnya.

Mungkin tidak berlebihan bila ia berkata seperti itu. Suasana taman kota tak ubahnya seperti pasar kaget. Pedagang berbagai macam barang semakin menambah maraknya suasana taman malam itu. Desahan napas Zaenal menggugah lamunanku. Baru kusadari Zaenal tidak banyak berkata-kata saat itu. Matanya memandang tak berkesip tanah lapang di hadapan kami. Merasa diperhatikan, Zaenal menatapku dan dia tersenyum, "Ada apa, Din?"

"Maaf. Tetapi kenapa tiba-tiba kamu berubah menjadi diam?" tanyaku

"Di lapangan ini, semua keluargaku terbunuh bersama dengan beberapa warga keturunan Madura lainnya," katanya ketika ia menemaniku duduk dipinggiran taman. "Aku sendiri selamat karena saat itu aku masih bekerja di perkebunan kelapa sawit."

Aku merasa gamang sesaat. Lagi-lagi kenalan baruku ini mengagetkanku dengan ceritanya. Zaenal membawaku ke titik-titik emosional yang jarang aku rasakan sebelumnya. Sesaat dia membawaku ke titik netral dengan menceritakan hal-hal yang menarik mengenai kisah hidupnya. Di lain waktu, dia menjebakku ke titik minus dengan menceritakan kenangan pahit dalam hidupnya. Tak kusangka tanah lapang yang berada di depan kami telah menjadi saksi bisu peristiwa yang telah menjadi daftar hitam sejarah bangsa Indonesia.

"Aku tidak menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, Din" katanya sambil memandangku. Zaenal menceritakan bahwa sebenarnya sebelum kerusuhan Februari 2001 itu terjadi, sudah ada beberapa kali kerusuhan kecil yang terjadi. Dia tidak menampik ketika kutanya perihal sikap etnisnya yang mungkin menjadi pemicu pertikaian tersebut. Dia juga mengatakan bahwa ada oknum tertentu dari etnisnya yang mengakibatkan peristiwa berdarah itu terjadi. Akibatnya banyak orang yang tidak berdosa menjadi korban.

"Aku ikhlas menerima kepergian mereka, karena aku yakin Tuhan mempunyai rencana yang terbaik bagiku," ucapnya bijak. "Aku sadar hidup ini adalah sebuah anugerah. Namun aku juga menyadari bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Bila memang bukan aku yang dipilih untuk menjalani hidup bersama keluarga dan wanita pilihanku, setidaknya kau bersyukur karena masih diberi anugerah untuk tetap hidup."

Bisa kurasakan beratnya cobaan yang harus teman baruku ini hadapi. Dia mungkin tengah menghadapi dilema dimana dia tidak hanya kehilangan kekasih namun juga seluruh keluarganya yang notabene berasal dari dua etnis yang bertikai. Kata-katanya terakhir mengusik hatiku. Dibanding dengan apa yang dialami Zaenal, apa yang aku alami mungkin tidak berarti.

Sekilas rekaman masa lalu melewati lamunanku.

Begitu jelas diingatanku hari-hari dimana kulalui tanpa senyum dan suara Rama. Ternyata kehilangan yang kurasakan begitu besarnya hingga kuputuskan untuk keluar dari tempatku bekerja. Tempat dimana aku bekerj dulu begitu banyak meninggalkan kenangan yang aku tahu akan sulit dilupakan bila aku tidak memilih untuk meninggalkannya. Setiap sudut dan jengkalnya menyimpan sejuta cerita dan membawaku kembali ke hari dimana Rama masih menjadi milikku. Namun kali ini cerita itu tidak membawa senyum tetapi luka yang semakin menganga. Aku tidak mau cengeng dan lemah. Tetapi aku tidak sanggup.

Ternyata Tuhan mengabulkan permohonanku. Aku pindah bekerja di sebuah majalah terbitan ibukota tiga bulan kemudian. Namun itupun ternyata tidak mampu melupakan Rama. Dia seakan-akan hadir di setiap sudut dimanapun aku berada. Terlebih-lebih dengan profesinya sebagai seorang penulis, Rama sering diminta untuk menulis di majalah tempatku bekerja. Rama memang berbakat. Karirnya tengah menanjak. Dia sering diundang ke berbagai acara TV, Radio atau hasil tulisannya bisa dibaca di berbagai media cetak ternama ibukota.

Dengan berat hati kuputuskan untuk keluar dari majalah tersebut walaupun aku mulai menyukai pekerjaan baruku. Semenjak aku pindah bekerja, aku putus kontrak dengan semua teman-teman yang ada hubungannya dengan aku dan Rama. Aku mengganti nomor telepon genggamku tanpa memberitahukannya kepada mereka. Aku benar-benar mencoba untuk mengalihkan semua hal yang berbau Rama. Aku memaki dalam hati mengapa sampai jauh begini tindakanku untuk melupakannya.

"Pria tidak hanya satu, Din. Memang kalimat itu klise, tetapi memang itu kenyatannya," jelas Cathrin, teman sekolahku dulu. "Cobalah untuk melihat dirimu secara positif. Kamu cantik, pintar dan pandai bergaul. Kamu dengan mudah mendapatkan pengganti Rama. Aku tahu kamu sangat kehilangan dia tetapi bukan berarti kamu larut dengan kehilanganmu itu," tambahnya.

Ahh, semua orang mengatakan kata-kata yang sama. Kata-kata yang seharusnya menjadi hal yang menguatkan diriku namun tetap tidak dapat menghiburku.

"Aku sependapat denganmu, Trin. Aku juga tidak mau lemah dan cengeng. Aku bukan tipe orang seperti itu," belaku. "Namun itu tidak mudah. Aku juga tidak tahu mengapa. Mungkin aku terlalu mencintainya."

"Cinta itu bukan segalanya dalam suatu hubungan. Lagipula aku pikir kamu tidak terlalu mencintainya," Cathrin berpendapat. "Detik dimana kamu berani bercinta, detik itu juga kamu harus siap apabila cinta meninggalkanmu. Dalam hal ini, kamu tentunya belum siap jatuh cinta, Din."

"Ternyata bukan aku seorang yang merasakan kehilangan," kata-kata Zaenal menggugah lamunanku. Ia tersenyum memandangku. "Kamu ternyata juga kehilangan orang yang kamu cintai, bukan?" tanyanya. "Tetapi kalau yang ini, kehilangan karena patah hati," katanya menggodaku.

Wajahku memerah karena malu. "Lagi-lagi dia bisa membaca hati dan pikiranku," umpatku dalam hati.
Kembali dia tertawa menggoda melihat sikapku.

"Besok kalau kamu ada waktu, kita bisa makan malam lagi," ajaknya ketika dia mengantarkanku sampai pintu hotel. "Ada soto Banjar yang enak dekat pelabuhan. Aku yakin kamu pasti langsung jatuh cinta dengan cita rasanya. Dijamin, jatuh cinta yang ini tidak membuatmu patah hati," kata-katanya kembali menggoda.
Tanpa berpikir dua kali, aku langsung menerima tawarannya. Aku kagum dengan ketabahan dalam diri pemuda ini. Dia mampu bersikap wajar dan tidak berlarut-larut tenggelam dalam kesedihan yang dialaminya.
Kurebahkan badanku ketika aku mulai memasuki kamar hotel. Kembali aku mencoba mencerna perkataan temanku, Cathrin.

Mungkin benar adanya semua yang dikatakan Cathrin. Cinta itu bukan segalanya dalam suatu hubungan. Banyak hal yang ternyata turut andil bagian dalam perjalanan cinta yang akhirnya menjadikan cinta itu sendiri akhirnya hilang, menguap tanpa bekas. Mungkin itu yang terjadi dalam hubungan kami. Beberapa hal yang semula kuanggap biasa-biasa saja pada akhirnya tidak dapat ditolerir lagi oleh Rama.

Tiba-tiba perasaanku menyesal datang dan menyeretku ke hari-hari dimana dia secara lembut mencoba mengungkapkan perkataan dan perbuatanku yang dirasa kurang berkenan. Aku akui seringnya aku bersikap kasar bila aku sedang marah karena sesuatu sebab. Bahkan tak jarang dia sering menjadi limpahan kemarahanku. Rama begitu sabar mencoba untuk mengerti, menerima dan menyadarkanku sampai suatu saat dia merasa kalau semua itu ternyata tidak berhasil. Akhirnya apabila aku sedang marah, dia hanya diam dan membiarkanku saja sampai akhirnya dia berkata kalau semuanya harus diakhiri.

"Kalau kamu sedih mengapa kita harus berpisah, ingatlah semua sikap kasarmu kepadaku," sarannya.

Kupejamkan mataku. Aku sadar kalau semuanya benar-benar sudah berakhir.

"Ko, aku punya satu permintaan sebelum aku pergi. Tidak ada hal yang akan membuatku tersenyum bahagia selain melihat sahabat-sahabatku menemukan pasangan yang tepat buat mereka," ucapku ke karibku, Eko. "Rizal sudah mantap dengan Indri. Tahun depan mereka akan menikah. Rindra dan Eni juga akan menikah. Rama dan Laras, walaupun hubungan mereka terbilang baru namun aku yakin mereka dapat berlanjut ke hubungan yang serius. Aku ingin kamu juga mendapatkan pasangan yang cocok seperti mereka."

Waktu itu kami berdua berada di bandara. Aku memutuskan meninggalkan Jakarta pagi-pagi sekali. Eko satu-satunya orang yang kuperbolehkan mengantar kepergianku ke Kalimantan. Sejenak kulihat ia menarik napas lalu melayangkan pandangan kosong ke arah penumpang yang berlalu lalang di hadapan kami.

"Aku tidak tahu, Din" jawabnya kaku. Dia terdiam. Kudapatkan pandangan kosong di matanya. "Begitu banyak cinta dihadapanku namun tak satupun yang mampu membuka hatiku untuk menerimanya. Aku takut nantinya tak mampu menjaga api cinta supaya tetap ada, tidak padam."

Aku tersenyum dan menggenggam ke dua tangannya. Karibku satu ini boleh dikatakan beruntung. Sangat beruntung malah. Bukan satu atau dua wanita yang secara terang-terangan menyatakan cinta kepadanya, namun semuanya dianggap angin lalu. "Ibarat naik bus kota, jangan terlalu banyak memilih kalau ada kesempatan untuk menaikinya," ujarku mencoba memberi saran. "Lama-lama tidak ada bus yang mau berhenti di halte yang kamu tunggu," candaku setengah mengancam. Pula kukatakan kepadanya bahwa apa yang terjadi antara aku dan Rama janganlah dijadikan ketakutan baginya untuk menjalin suatu hubungan.

Karibku ini ternyata ikut sedih melihat akhir hubunganku yang tidak berjalan dengan baik. Setelah resmi hubunganku dan Rama berakhir, bukan hanya Eko namun teman-temanku yang lainnya kaget akan berita perpisahan ini. Di mata mereka aku dan Rama adalah pasangan yang ideal dan penuh dengan kasih. Tak jarang mereka mengaku kalau mereka iri dengan cinta kami. Hal inilah yang mungkin membuat Eko takut akan mengalami hal yang sama nantinya.

"Din, kita berdua sama-sama sendiri. Kenapa kita tidak memutuskan untuk pacaran saja?" tiba-tiba Eko bertanya. "Atau kita tidak perlu pacaran. Langsung menikah. Setuju?" ajaknya bersemangat.

Kucubit tangannya dan kita sama-sama tertawa. Eko memang selalu membuat suasana sendu menjadi ceria. Itulah sebabnya hanya dia yang kuperbolehkan mengantarkanku ke bandara.

Malam semakin larut. Udara menjadi dingin. Kututup jendela kamarku. Kupandangi angkasa yang bertaburan bintang dengan sinar kecilnya yang berkelap-kelip. Kunikmati perasaan nyaman dan tenang sejenak. Entah mengapa bintang-bintang itu selalu membawa damai yang tak terperi setiap kali aku memandangnya.
Kupandangi sebuah lilin berbentuk bintang yang diberikan Eko sebagai kenang-kenangan. Lilin itu berukuran sedang berwarna biru muda dengan sumbu kemerahan ditengahnya. Kunyalakan lilin dan kucium bau melati yang harum namun tidak terlalu mencolok hidung. Keharuan menyeruak hatiku. Begitu besar perhatiannya kepadaku.

"Lilin itu kupesan khusus buatmu, Din" Eko memberi keterangan sewaktu kami akan berpisah. "Banyak lilin yang berbentuk bintang namun jarang yang berbau melati seperti ini," sambungnya.

"Trims, Ko." Aku tidak tahu harus berkata-kata apa lagi. Kuambil telepon genggamku dan mencari sebuah nama. Nama yang selalu muncul pertama kali setiap saat hatiku diliputi rasa tidak nyaman.

"Malam Ko, sudah tidur ya?" takut-takut aku bertanya mengingat waktu sudah menunjukkan hampir jam 11 malam.

"Belum Din, aku baru pulang menemani Ibu ke resepsi pernikahan anak teman satu kuliahnya dulu." Suara itu
begitu lembut. "Kamu kok belum tidur? Bukannya kamu besok harus kerja?" tanyanya beruntun.
Pertanyaan itu begitu tulus. Mulutku terkunci. Kami sama-sama terdiam.

"Aku hanya mau bilang kalau aku akan menjadi Dini yang dulu," akhirnya aku bersuara juga. "Aku akan menjadi Melati Dinihari yang kau kenal dulu. Ceria dan penuh semangat hidup," tambahku kemudian.

"Dini yang baik, tidak sombong serta rajin menabung," tambahnya kembali menggoda. Wajahku memerah karena kesal digoda terus. "Pasti lagi ngambek," kembali dia menggoda. Aku tersenyum. Kudengar dia tersenyum. Lalu kami sama-sama tertawa.

"Aku senang mendengarnya, Din. Aku baru lega sekarang karena aku tahu kamu akan baik-baik saja."
"Aku akan baik-baik saja, Ko."

"Selamat tidur, Ko" ucapku mengakhiri pembicaraan.

"Selamat tidur, Din. Selamat malam."Kuakhiri hari ini dengan perasaan lega. Perasaan yang hampir 9 bulan ini begitu sulit kudapat. Disini, di Sampit, aku mendapatkan ketenteraman yang lama hilang dari hatiku. Kembali aku teringat kalimat yang diucapkan Zaenal. Hidup ini memang karunia dan juga sebuah pilihan. Kalau memang hidupku tidak aku jalani bersama Rama, setidaknya aku bersyukur bahwa aku masih bisa merasakan hidup ini.

"Terima kasih Tuhan. Terima kasih," seruku berkali-kali. Begitu damainya hati ini hingga membuatku menangis. Ternyata Tuhan memang mempunyai rencana membawaku ke kota ini. Begitu aneh rencananya bagiku. Namun aku yakin kalau dapat menjalaninya dengan hati yang lapang dan optimis. Sebelum tidur, aku berdoa memohon ampun atas kealpaanku selama ini dihadapannya.

Sampit, Agustus 2003





























Bidadariku, Penariku

BIDADARIKU, PENARIKU
Senja baru saja pergi menggantikan sore yang diguyur gerimis. Puluhan mobil silih berganti keluar masuk halaman parkir sebuah bar dan lounge yang berada di kawasan Selatan kota Jakarta. Langkah-langkah kaki berjalan terburu-buru, tak sabar ingin segera bergabung dalam private party yang digelar jauh lebih awal dari disco time.


Hanya ada sekitar dua puluh pengunjung. Itu pun termasuk dengan sang tuan rumah. Semua tamu adalah pria. Tak heran tentunya mengingat menu yang disajikan adalah menu istimewa. Striptease dan Lingerie Show.

"Aku ingin bertemu bidadariku. Apakah kamu mengenalnya?" tanyaku pada seorang Lady Escort yang sengaja didatangkan tuan rumah untuk menemani setiap tamu. Selain itu Lady Escort ini bertugas memberikan pelayanan plus bagi pasangan masing-masing.Wanita itu menatapku. Tatapannya liar, menelanjangiku bulat-bulat.

"Aku bidadarimu, bung!" jawab sang wanita, masih menatapku liar.

Aku menggeleng pelan. "Bukan. Kamu bukan bidadari yang aku cari." Aku melangkah pergi, meninggalkan pesta. Tak perduli, Edwin, sang tuan rumah berteriak memanggilku. Tak perduli jutaan rupiah melayang sia-sia hanya untuk datang ke pesta itu. Aku tidak menemukan bidadariku di tempat itu.

Lain waktu, aku berada di antara ratusan clubbers sebuah bar dan resto. Masih berada di kawasan Selatan kota Jakarta. Musik R & B mulai menyulut semangat pengunjung untuk menenggelamkan diri dengan hentakan-hentakan musik sang guest DJ di lantai dansa. Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Enam orang wanita bertubuh seksi yang hanya berbalut G-String dan bra berwarna merah menyala berjalan melintasi kerumunan dan meja-meja pengunjung. Tubuh para pengunjung, pria maupun wanita, laksana terbakar ketika para penari mulai melakukan tarian sensual tepat di hadapan mereka.

Aku terdiam diantara gemuruh sorak sorai pengunjung yang membahana. Teriakan histeris tidak henti-hentinya menggema berbaur diantara pencarianku akan bidadari yang selama ini aku cari. Tetapi lagi-lagi aku kecewa.
Aku kecewa mendapati bidadariku tak menari malam ini. Kemana bidadariku? Dimana dia? Tak henti-hentinya aku mencarinya dari satu bar ke bar yang lain. Dari satu senja ke senja yang lain. Hasilnya? Nihil! Sejak pertemuan di malam itu, dia menghilang seperti di telan bumi.

Dia menghilang dengan meninggalkan seberkas rasa yang memaksaku untuk terus mengingatnya. Mengingat rambut panjangnya yang hitam terurai. Menyimak satu persatu bait kalimatnya yang meluncur dari bibirnya yang melengkung seperti pelangi. Rongga kepalaku masih terisi memori akan wajahnya yang putih bersinar laksana bidadari yang turun dari surga. Aku tidak perduli siapa nama aslinya. Aku telah menamainya. Bidadari.

Kuteguk segelas vodka, mencoba mencari bias-bias bayangan bidadariku di antara buih-buih alkohol. Aku tertawa menangisi kebodohanku. Mana mungkin dia ada diantara minuman memabukkan seperti ini.

"Aku tidak suka minumal berakohol. Hanya membuat kepalaku pusing," ujarnya, saat aku menawarkan segelas anggur merah.

Perkenalanku dengan dia berawal dari sebuah pesta terbuka yang dihadiri lebih dari 15.000 pengunjung di Genting Highland, sebuah pusat hiburan yang ketinggiannya melibihi ketinggian awan pertama, Malasyia. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba saja menghampiri lalu menyapaku.

"Kamu orang Indonesia?" dia bertanya diantara laju awan yang berjalan pelan. Begitu cantiknya hingga membuatku terhenyak. Bidadarikah ia? tanyaku membatin.

Aku mengangguk, mengiyakan pertanyaannya. Dia tersenyum, mempesonakan diriku. Dia benar-benar bidadari, kataku dalam hati.

Kuhembus asap rokok kuat-kuat, mencoba melepaskan beban yang menyesakkan paru-paru. Beberapa saat aku terdiam, melihat kepulan asap yang berputar melayang-layang seperti awan tipis. Aku tersenyum dibalik asap rokok yang mengepul. Bidadariku tidak suka merokok.

"Maaf. Aku tidak bermaksud menolak. Tetapi aku tidak merokok. Merokok hanya membuat bibir dan gusiku hitam."

Lagi-lagi aku terhenyak mendengar lantunan kata-katanya yang membius sekujur tubuhku. Begitu merdu hingga suaranya masih terngiang jelas di rongga telingaku. Beginikah bila seorang bidadari bertutur kata? Aku terdiam. Bingung akan penolakannya atas semua tawaranku.

"Lalu untuk apa kamu berada di sini?" tanyaku.

Dia memandangku dengan manik matanya yang hitam seperti mutiara. Kemudian dia tersenyum dan tertawa.

"Aku menari," jawabnya, sambil mendekatkan bibirnya di telingaku. Jawaban yang pelan namun membuatku seperti terkena ribuan volt aliran listrik.

"Kamu ingin melihatku menari?" tanyanya. Kali ini mungkin puluhan ribu volt aliran listrik menerjang setiap inchi tubuhku. Merobek daging dan menghancurkan setiap persendian tulang. Hanya karena dia mendekatkan tubuhnya yang harum ke tubuhku. Sesederhana itu.

Tiga puluh menit kemudian dia muncul. Dia turun dari ketinggian gedung lalu memijakkan kakinya tepat di atas panggung. Suasana menjadi bertambah hiruk pikuk saat ia menggerakkan pinggul, kaki dan tangannya.

"Bidadariku menari," ujarku takjub.

Mataku menangkap sesosok setengah baya hendak menyentuhnya dari bawah panggung. Aku marah. Emosiku mendidih. Kuhujam tinjuku tepat di perutnya yang buncit. Dia terjatuh lalu terkapar. Tak seorang pun tahu, kecuali dia. Bidadariku.

"Mengapa kamu berbuat seperti itu?" dengusnya kesal.

Aku terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Bidadariku memarahiku.

"Kamu bisa ditangkap kalau ketahuan penjaga klub. Untung saja suasana klub ramai. Lain kali, kamu jangan nekat berbuat seperti itu!" hardiknya.

Aku lagi-lagi terdiam. Namun hatiku diselimuti perasaan senang. Bidadariku ternyata mengkuatirkan keadaanku.

"Aku tidak rela kamu disentuh pria tua itu," akhirnya aku bersuara. Bidadariku tertegun. Ditatapnya diriku mencari kebenaran akan kata-kataku.

"Dimana kamu tinggal?"

"Aku warga dunia. Langit adalah rumahku," jawabnya enteng.

"Aku senang bertemu denganmu. Kamu?" aku berterus terang.

Lagi-lagi ditatapnya diriku lekat-lekat. Beberapa saat kemudian dia tertunduk lalu melempar pandangannya ke arah kerumunan orang yang asyik melantai. Dia tidak menjawab. Tetapi dia tersenyum, menampilkan barisan gigi putihnya yang tertata rapi.

"Kapan kita akan bertemu lagi?" tanyaku.

"Kita pasti akan bertemu. Aku pasti ada di setiap bar dan klub yang menyajikan tarian. Aku pasti ada dimana DJ memainkan musiknya. Besok aku balik ke Jakarta. Menari di Retro. Kamu masih ingin melihatku menari lagi?"

"Pasti," kataku yakin. Aku ingin melihat bidadariku menari.

"Kamu jangan berbuat seperti itu lagi kepada tamu lainnya. Berjanjilah!"

Kubentuk jari telunjuk dan jari tengah menjadi huruf V.

"Aku berjanji," kataku. Bidadariku tersenyum lalu pergi.

Klub Retro malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, selalu ramai dikunjungi clubbers yang rajin datang saban Sabtu malam. Klub ini menawarkan aliran musik house. Peminat musik ini tidak sedikit. Sama jumlahnya dengan peminat aliran musik progressive dan techno tribal yang ditawarkan di klub-klub terkemuka lainnya.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Sudah saatnya acara puncak dimulai. Alunan musik berhenti. Lampu sorot warna-warni telah redup. Hanya beberapa saat sebelum akhirnya musik kembali bermain diantara sorotan lampu beraneka warna. Para penari memulai aksinya. Empat orang wanita dan dua orang lelaki bertubuh tegap.

"Itu dia," sahutku melihat bidadariku muncul. Dia memang paling cantik diantara wanita lainnya. Aku melambaikan tanganku memanggil namanya. Apakah dia mendengarku? tanyaku ragu. Dia harus mendengar namanya dipanggil. Dia harus tahu aku menontonnya menari.

Tarian pun dimulai. Musik menghentak-hentak. Sebagian orang berjingkrak-jingkrak. Sebagian lagi terpana menyaksikan tarian erotis para penari. Aku tersentak. Dadaku terasa sesak. Apa yang dilakukan bidadariku? Apa yang dilakukan pria penari itu kepadanya?

Kukepalkan tanganku mencoba melawan amarah yang telah memuncak hinggak ke ubun-ubun. Kugigit bibirku agar rasa sakit yang kurasa mampu membunuh keinginanku untuk menghajar pria penari itu. Aku harus menepati janjiku. Janji kepada bidadariku, ucapku membatin.

Suasana makin memanas. Tingkah pengunjung semakin menggila melihat tarian demi tarian yang dapat menghentikan detak jantung. Emosiku lagi-lagi mendidih. Mataku nanar melihat seorang penari pria yang menutupi wajahnya dengan topeng tengah melakukan adegan tidak pantas kepada bidadariku.

Kuteguk gelas vodka hingga kosong. Kuberi tanda kepada bartender untuk memberiku segelas vodka lagi. Begitu gelas terisi, kutenggak hingga habis. Kuhisap asap rokok dalam-dalam. Aku terbatuk. Mataku pedih. Aku berjalan tertatih menuju toilet. Kubasuh mukaku berkali-kali hingga air membasahi kemeja hitam yang aku pakai.

Bidadariku, penariku, dimana dirimu berada sekarang? tanyaku.

"Kamu melanggar janji kepadaku!" dia berdiri, bertolak pinggang. Suaranya bergetar menahan amarah.

"Maafkan aku," pekikku pelan.

"Diam!" bentaknya gusar. "Aku benci dirimu. Mulai detik ini juga, kamu tidak akan melihatku lagi. Selamanya."

Aku sendiri di dalam toilet pria. Sendiri diantara cermin panjang, pintu coklat, wastafel, kertas tisu dan cairan pembersih tangan. Kupandang tangan kananku dengan perasaan campur aduk. Marah, kesal, takut dan kecewa. Tangan kananku ini telah menghajar dan membuat babak belur penari pria teman bidadariku.

Bidadariku telah pergi. Apakah dia telah kembali ke langit di tempat dimana dia berasal? Aku tak tahu. Sementara itu, malam telah bergulir menjadi pagi. Aku mau bertemu bidadariku, desahku perlahan.
*****

Thursday, January 13, 2005

Mimpi Lovina

LOVINA

Pria ini datang lagi. Tubuhnya yang besar direbahkan perlahan disampingku. Kurasakan tangannya menggerayangiku kasar. Satu… Dua…. Napasnya makin memburu. Tiga… Empat… . Diangkatnya kakiku lalu dihentakkannya tubuhnya. Kugigit bibirku ketika kurasakan hentakkannya semakin cepat dan keras. Lima…. Enam… . Pria itu merintih. Dibenamkan tubuhnya semakin dalam. Tujuh… . Gerakannya berhenti. Pria setengah baya ini tidak lagi merintih. Dia telah menggelepar tercabik nikmat orgasme.

Dia tidak pernah lebih dari hitungan ke tujuh, ujarku dalam hati.

Pagi belum muncul saat rintik hujan membasahi pantai di laut utara Bali. Made, nelayan muda mempersilahkan seorang wanita muda berparas cantik duduk di bagian depan perahu kecilnya yang hanya cukup untuk satu penumpang. Tak berapa lama kemudian, Made menghidupkan mesin dan membawa perahu kecilnya menembus air laut yang putih transparan.

Wanita ini begitu mempesona, puji Made dalam hati. Sudah puluhan, bahkan mungkin ratusan kali ia melihat wanita ini, namun manik mata hitamnya tidak pernah bosan untuk menikmati keindahan lukisan tangan sang pencipta alam yang duduk di depannya. Begitu terpesonanya sampai-sampai ia rela mengantar wanita ini. Ia tidak perduli kalau rintik hujan membuat hawa pagi ini menjadi begitu dingin.

Sudah puluhan, mungkin ratusan kali itu juga, Made bingung akan penumpangnya ini. Wanita ini tidak pernah berkata-kata. Dia hanya termenung diam. Matanya yang indah seperti mutiara hitam hanya memandang pemandangan dalam laut. Sesekali desahan napasnya terdengar diantara deru mesin perahunya. Made teringat sebait kalimat yang keluar dari bibirnya yang ranum. Itupun hanya sekali saja saat wanita itu mendatangi perahunya untuk pertama kalinya, “Bawa aku menjumpai makhluk penarik kereta Poseidon.”
Made terdiam, terpesona akan wanita yang berdiri depannya. Made tidak mengerti maksud ucapan wanita ini, namun hatinya mengatakan wanita ini ingin diantar ke laut lepas.

“Kamu kapan kawin?” tanya wanita setengah baya yang biasa kusebut Bude. Nada suaranya begitu prihatin dan sedih.

Aku sudah kawin, Bude. Dua malam lalu aku baru disetubuhi.

“Aku masih konsentrasi pada pekerjaan dulu, Bude,” jawabku datar.

“Bude tidak mengerti wanita jaman sekarang. Disuruh kawin saja susah! Jaman Bude dulu merupakan suatu kehormatan besar kalau ada seorang laki-laki datang melamar. Kamu jangan pilih-pilih kalau cari jodoh. Ingat, kamu itu wanita. Apa kamu mau dibilang wanita perawan tua?” tanyanya gusar.

Bude ini tuli atau pura-pura tidak mendengar? Aku sudah katakan kalau aku sudah kawin! Pria yang mengawini aku orgasme pada hitungan ke tujuh.

“Sudahlah, Bu. Vina sudah besar. Dia pasti mengerti kodratnya sebagai seorang wanita. Suatu hari kelak dia akan kawin dan memberikan anak-anak manis buat kita,” kali ini sang suami yang bersuara.

“Gimana dia mau punya anak, Pak? Jangankan calon suami. Pacar saja dia tidak punya,” suara Bude meninggi melihat sang suami membelanya.

Wanita tua ini tidak hanya tuli, tetapi juga buta! rutukku. Siapa bilang aku tidak punya anak? Aku sudah melahirkan tiga orang anak dari perkawinanku. Satu laki-laki bernama Raka dan dua perempuan bernama Mayra dan Kayla.

Sunyinya malam tidak lekas membuat mataku terpejam. Biasanya ini pertanda kalau pria yang menyetubuhiku akan datang lagi. Dugaanku tidak meleset. Beberapa menit kemudian, dia datang mengendap-endap seperti pencuri. Mulutnya menyeringai akan birahi melihat tubuhku yang terbaring diam.

Hembusan napasnya laksana benteng terluka, begitu jelas terdengar di rongga kupingku. Dengan kasar dia menyingkap pakaianku dan ditengkurapkannya tubuhku. Lalu disetubuhinya tubuhku keras-keras. Satu… Dua… . Semakin keras dia membenamkan tubuhnya. Tiga… Empat… . Pria ini melenguh pelan. Lima… Enam… . Kurasakan tubuhnya bergetar hebat. Tujuh… Dela… . Pria itu orgasme sebelum hitungan ke delapan.

Lihat Bude, aku sudah kawin. Ini kali kesekian aku disetubuhi. Lihat Bude, pria ini telah menanamkan cairan spermanya di dalam tubuhku. Jadi jangan katakan, aku belum kawin! Aku s u d a h k a w I n……!!!

Dari seorang temannya yang berprofesi sebagai pemandu wisata, Made mengetahui kalau Poseidon yang disebut wanita cantik penumpang perahunya adalah Sang Dewa Laut yang juga disebut Neptunus dalam kisah mitologi Yunani. Suatu hari Poseidon melihat seorang peri laut jelita putri Nereus dan Doris bernama Amfitrite menari saat laut tengah pasang surut di pulau Naxos.

Poseidon jatuh hati padanya. Lalu Poseidon menciptakan makhluk baru yang pandai menari dan berbicara untuk merebut hati sang peri. Makhluk itu diberinya nama “lumba-lumba”. Lalu sang makhluk diperintahkannya menemui Sang Peri Laut dengan membawa isi hati Poseidon. Usahanya berhasil. Lumba-lumba itu menyampaikan isi hatinya dengan sangat menarik hati hingga Amfitrite tidak kuasa menolak cinta Poseidon.

Singkat cerita, sang peri diperistri penguasa laut dan menjadi Ratu Laut. Begitu besar rasa sayangnya terhadap lumba-lumba sehingga sang Ratu menjadikan lumba-lumba penarik kereta kristalnya dan Poseidon.

Firasat Made berkata bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan wanita ini. Entah apa, tetapi firasat Made mengatakan kalau wanita cantik yang duduk termenung diam di depannya tengah bersedih.

“Anda baik-baik saja?” akhirnya Made memberanikan diri bertanya.

Sepertinya orang yang ditanya terkejut mendengar pertanyaan Made, terlihat dari matanya yang menatap tak berkesip kepada Made. Namun tidak berapa lama tatapannya berubah sendu.

Setelah beberapa kali mendesah, wanita itu menjawab, “Saya ingin bertemu Poseidon. Apakah kamu bisa mengantarkanku bertemu dengannya?”

“Saya tidak mengenal Poseidon,” jawab Made lalu dipalingkan wajahnya. Tiba-tiba saja dia merasa cemburu dan marah.

“Kamu bohong,” ucap wanita itu lembut. “Kamu mengenal dan tahu betul siapa Poseidon,” ucap wanita itu lagi. Kali ini wanita itu tersenyum. Senyum yang begitu menawan bagi siapapun yang melihatnya. Rasa cemburu dan marah yang bercokol di hatinya tadi menguap hilang begitu saja

“Minggu pagi aku datang lagi ke sini. Kamu mau kan mengantarkanku?”

Made mengangguk tanpa suara.

“Aku mau menikah Bude,” kataku hati-hati.

Semua orang terkejut, terlebih-lebih wanita setengah baya yang diajaknya berbicara. Saat itu aku, Bude dan Pak De berkumpul di ruang makan.

“Benarkah itu Lovina?” tanya Bude tidak percaya dengan ucapanku.

“Betul, Bude. Aku mau menikah. Menikah Bude bukan kawin,” kataku memberi penekanan pada kata menikah dan kawin. Tetapi sepertinya Bude tidak perduli dengan penekanan kataku. Baginya kawin atau nikah sama saja.

Bude menghambur lalu memelukku erat. Berkali-kali disebutnya nama Tuhan, mengucapkan terimakasih atas terkabulnya doa yang dipanjatkannya selama ini.

“Siapa lelaki yang beruntung itu?” tanya Bude antusias.

“Dia bernama Poseidon, Bude,” jawabku tak kalah antusias. “Aku mengenalnya satu tahun yang lalu saat aku berada di Pantai Lovina.”

“Namanya posdon?” Bude mengulang nama yang kusebut dengan dahi berkerut. Bude nampaknya bingung mendengar nama calon suamiku.

“Bukan Posdon, tetapi Poseidon, Bude,” kataku membenarkan. “Namanya memang sedikit susah untuk diucapkan. Maklum, dia orang Yunani.”

“Wah, hebat,” Bude memelukku lagi. “Diam-diam ternyata kamu mempunyai pacar. Orang bule lagi.” Bude mengerjapkan matanya beberapa kali. “Aku bangga sama kamu, Lovina.”

“Jadi Bude setuju saya menikah?”

“Jelas Bude setuju. Ini benar-benar keinginan Bude dan Pak De. Ya kan Pak?” tanyanya ke sang suami yang terpekur diam di sudut meja.

Pak De tidak segera menjawab. Ditatapnya diriku dengan sinar mata yang berkilat-kilat. Pak De sepertinya marah.

“Apa tidak terlalu cepat kamu menikah?” kali ini Pak De bertanya. Pandangan matanya masih sama. Berkilat-kilat seperti hendak menerkamku.

“Terlalu cepat bagaimana sih Pak?” protes Bude. “Lovina ini sudah hampir berumur 30 tahun. Sudah saatnya dia kawin, Pak,” suara Bude terdengar kesal.

Aku ingin menikah Bude. Bukan kawin, Bude. Aku ingin menikah!

Aku bernama Lovina. Persis seperti nama sebuah pantai di Buleleng, Bali. Ibuku sendiri yang memberi nama Lovina. Budeku bilang ibuku memberi nama Lovina karena Lovina adalah tempat dimana ayah dan ibuku dulu bertemu dan jatuh cinta. Namun ironisnya Lovina juga tempat dimana ayah dan ibuku menghilang. Konon kabarnya, orang tuaku menghilang saat mereka berada di tengah pantai. Saat itu aku masih berumur 5 tahun. Masih terlalu kecil untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Sejak itu aku dibesarkan oleh Bude dan Pak De. Kebetulan mereka tidak mempunyai anak sehingga mereka membesarkanku seperti anak mereka sendiri. Tak jemu-jemunya mereka melimpahiku dengan kasih sayang yang seperti air. Tidak pernah putus dan terus mengalir.
Terlebih-lebih Pak De. Pak De sangat menyayangiku. Tak jarang Pak De menghabiskan akhir pekan bersamaku. Bermain, bermain dan terus bermain.

Hingga sampai suatu ketika saat umurku beranjak remaja. Tidak ada yang berubah. Kasih sayang Pak De semakin melimpah. Pak De semakin rajin mengajakku bermain. Tetapi kali ini dia mengajakku bermain anatomi tubuh. Dia orang yang pertama kali memberitahuku secara detil apa itu vagina, penis, buah dada, bokong dan bagian-bagian tubuh lainnya yang menimbulkan rangsangan hebat apabila disentuh.

Hingga pada suatu malam kala hujan deras mengguyur bumi, Pak De mendatangiku kamarku. Dia tidak mengetuk pintu seperti biasanya. Tanpa suara, dia langsung mendekap tubuhku, menciumi leherku dengan buasnya. Tangannya yang besar berbulu menjamah buah dadaku dengan rabaan kasar. Aku terdiam. Entah karena nikmat atau bingung. Yang aku tahu, saat dia hendak memasuki tubuhku, aku berontak lalu menjerit. Tiba-tiba saja aku tersadar bahwa perbuatan ini salah. Mataku seakan terbuka lebar bahwa selama ini aku hanya diperalatnya. Aku telah dilecehkan!

Sebuah pukulan melenyapkan kesadaranku. Setelah bangun tersadar , sebuah suara menggaung keras di gendang telingaku,”Kalau kamu teriak seperti itu lagi, aku tidak segan-segan membunuhmu. Membunuhmu!!”

Perahu kecil menembus kesunyian pagi. Terus melaju hingga berada lebih dari satu kilometer dari pantai. Tepat saat matahari mulai terbangun di ufuk timur, tampak ada sesuatu yang muncul secara perlahan dari laut, lalu menghilang. Tiba-tiba muncul sesuatu dekat perahu. Lima lumba-lumba berwarna biru keabu-abuan. Mereka mengeluarkan suara seperti menyanyi, lalu berputar mengelilingi perahu. Lumba-lumba itu menari.

Made terhenyak dari lamunannya saat disadarinya tarian yang ditunjukkan oleh kelima lumba-lumba itu membentuk gelombang kecil di sekitar perahu.

“Maukah kau ikut menari seperti mereka, Made?” tanya wanita itu.

“Bagaimana kamu tahu namaku?” tanya Made bingung.

Wanita itu tersenyum. “Nanti kamu akan mengerti sendiri.” Made lagi-lagi terpesona dengan senyuman wanita itu.

Made mengangguk. Tanpa pikir panjang lagi, Made menceburkan dirinya, ikut bernyanyi dan menari bersama lima lumba-lumba yang lain. Tiba-tiba saja perahu kecilnya berubah menjadi kereta kristal. Diatasnya wanita cantik yang menjadi penumpangnya berpakaian sangat indah seperti seorang ratu.

Esok paginya, di sebuah rumah di bilangan Gianyar, terjadi kehebohan. Seorang pria setengah baya ditemukan tewas terbunuh dalam keadaan telanjang. Kehebohan juga terjadi di pantai Lovina. Dua mayat terbaring kaku di pinggiran pantai. Mayat laki-laki dan wanita yang sangat cantik. Menurut wisatawan yang melihat, kedua mayat itu dibawa oleh lima lumba-lumba ke pinggir pantai.

Mayat laki-laki dikenal bernama Made, seorang nelayan muda yang hidup sebatang kara. Hanya mayat wanita yang tidak dikenal oleh penduduk sekitar. Mayat wanita cantik itu terbaring kaku sambil memeluk tiga buah toples bening yang berisikan onggokan daging. Ketiga toples itu masing-masing bertuliskan Raka, Mayra dan Kayla.

Aku sudah menikah, Bude. Aku sudah menikah dengan Poseidon tadi pagi.






























Cerita Sebuah Pagi

10 Oktober 2002. Pagi ini aku terdiam. Diam karena tersiksa gelisah yang menguak hatiku yang kosong lalu meradang ngilu, menyerang dan menjalar di seluruh tubuh. Ketika semuanya berakhir, hanya rasa hambar tersisa dari sebuah cerita lalu. Cerita yang membawaku pada sebuah pagi suram di pulau Bali.

Pagi ini aku kembali terbaring sepi. Sendiri. Bingung mau berbuat apa. Ataukah karena asa yang menguap ragu? Kadang hinggap bernafsu bagai kupu di sarang madu tetapi kemudian pergi menghilang terburu-buru. Sungguh pagi yang aku benci. Terlebih karena aku harus berada di pulau seribu pura ini lagi.

Angin pantai Kuta menderu membawa simfoni lagu yang menemaniku duduk di hamparan pasir putih kecoklatan. Lagi-lagi aku merasa sepi. Sendiri. “Kenapa aku harus pergi ke Bali seorang diri?” keluhku membatin. Sungguh aku membenci pagi ini. Terlebih-lebih karena aku sebenarnya tidak tahu untuk apa aku berada di pantai Kuta. Aku tidak bisa surfing atau berenang. Dan lagi aku tidak menyukai warna kulitku yang semakin menghitam tertusuk panasnya terik matahari. I’m such a fool!

“Cinta,” sebuah suara mengagetkanku. Aku berpaling ke arah suara itu. Sesaat aku terdiam. Napasku terasa berhenti. Denyut nadiku berjalan cepat.

Aku masih terdiam karena terkejut. “Apakah aku bermimpi?” tanyaku dalam hati. Kuresapi pertemuan ini dengan mencoba menikmati bayangannya. Desir bahagia mengisi ruang sepiku. Aku ingin menangis walau tak tahu juga untuk apa aku menangis. Rasa kangenkah? Atau karena bahagia melihatnya berdiri depanku. Kelu hati mencampakkan angan-anganku. Aku masih terdiam, duduk mematung tanpa berkedip memandangnya.

Pria ini tak kalah kagetnya dengan diriku. Pertemuan kami ini bukanlah disengaja. Jikalau bukan, apakah ini bisa dikatakan takdir?

“Apa kabar?” suara itu memadamkan tatapanku. Aku mendesah sebelum menjawab pertanyaanku. Namun bukan sebuah kata yang keluar. Hanya senyum tipis yang menghiasi jarak di antara kami berdua. Hanya senyum. Tiba-tiba saja rasa bahagia itu mengendap lalu lenyap menghilang.

“Sudah berapa lama kamu di Bali?” dia bertanya lagi. Kenapa kamu tidak bilang kamu akan datang? Aku kan bisa menemanimu.”
Aku mengeluh kenapa dia banyak sekali bertanya. Kenapa dia tidak duduk dan terdiam bersamaku. Itu lebih baik, setidaknya buat diriku. Mendengar suaranya serasa tertusuk ribuan belati. Perih. Pedih.

“Kenapa kamu harus terus berbicara?” tanyaku balik.
Dia bingung dengan pertanyaanku. Terlihat dari kerut di dahinya.

“Kamu ingin aku berbuat apa?” dia bertanya dengan nada yang selalu digunakannya kala aku merajuk. Lambungku terasa sakit membayangkannya. Mataku berkabut akibat menahan bening air mata yang ingin tumpah.

“Pergilah,” satu kata yang keluar dari bibirku. “Aku ingin sendiri. Jangan kau siksa diriku lagi dengan keberadaanmu.”

Ada hening sesaat sebelum dia beranjak pergi. Hening yang aku harap membawa takdir ini cepat berlalu. Namun tiba-tiba langit terasa runtuh menghantam tubuhku. Jiwaku berkata lain. Jiwaku ingin pria ini jangan pergi.

“Diamlah disini bersamaku,” hatiku menjerit tanpa kata. “Bukankah pantai ini sangat indah kala sore menjelang? Bukankah di pantai ini kau pernah melukiskan namaku dengan sebatang kayu perdu? Jangan pergi. Jangan pergi.” Kali ini aku menangis. Dalam tangis aku mengaduh. Tangis yang hanya membawa hatiku kembali sepi. Sendiri.

Pagi berganti siang. Siang berganti malam. Pantai Kuta telah hilang ditelan gelapnya singgasana malam. Suasana sepanjang pantai Kuta menggeliat semu. Setiap ujungnya menawarkan sejuta pesona, menggelinjang menahan ejakulasi yang menggoda untuk segera sampai ke puncak. Aku berjalan terseok-seok menuju area parkir.

“Aku harus cepat pulang,” bisikku. Aku teringat sebuah rumah mungil di daerah Jimbaran yang telah menungguku. “Tetapi untuk apa aku pulang?” tanyaku menahan langkah kakiku. Rumah itu telah berubah. Tidak sama seperti dulu. Aku tidak lagi menginginkan rumah itu. Seharusnya rumah itu turut terbakar seiring dengan api asmaraku yang hangus terbakar. Dan seharusnya rumah itu hanyalah berupa onggokan puing-puing yang berserakan tak berharga seiring dengan hatiku yang hancur berkeping.

“Cinta, aku antarkan kamu pulang ya,” suara itu datang lagi. Sebuah suara yang membuatku kembali tertegun. Suara yang seharusnya sudah pergi pagi tadi. Adakah sang empunya suara sengaja menunggu diriku?

“Untuk apa kamu masih disini? Kamu tidak dengar kata-kataku. Aku ingin kamu pergi!” suaraku bergetar lemah.

Dia tidak segera menjawab. Napas panjangnya terdengar menyambut dinginnya angin malam.
“Ada rasa yang membisikkan padaku untuk pergi ke pantai Kuta pagi tadi. Ternyata rasa itu yang menuntunku kembali menemukan dirimu. Tak mungkin aku pergi begitu saja setelah hampir 3 bulan lamanya dirimu menghilang tanpa kabar.”

Tiba-tiba saja aku kangen rumah mungilku. Aku tidak perduli jika aku harus tinggal di tempat yang telah hancur dan hanya menyisakan puing. Tetapi setidaknya aku dapat bersembunyi. Mungkin itu jauh lebih baik.

“Cinta, please, jangan sakiti dirimu seperti ini.”

“Bukankah ini semua karenamu? Apakah kamu lupa kalau kamu yang menyakiti diriku bukan aku?”

“Maafkan aku, Cinta,” kata-katanya menembus batas jiwaku yang terluka. Darahku terkesiap ketika kurasakan tubuh hangatnya mendekatiku. Aku tak kuasa menolak saat kedua tangannya menuntun kepalaku untuk rebah di dadanya. Aku tidak berontak. Tidak dengan kata atau tindakan.

Hanyalah sebuah kata maaf ternyata mampu membuatku menjadi begitu penurut melebihi seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Sebegitu lemahnyakah aku? Tiba-tiba saja aku muak dengan diriku. Betapa bodohnya aku. I’m just such a fool!!

Pria bernama lengkap I Gusti Anak Agung Oka Risangaji Darma tertidur pulas di sebelahku. Parasnya yang elok tertimpa sinar bulan purnama yang berpendar kuning kemerahan. Kunikmati tanpa bosan lukisan maha karya sang pencipta di depanku. Begitu sempurna dan nyaris tanpa cela. Kuhapus butir-butir peluh keringat di dahinya. Sekilas pikiranku merambah ke beberapa saat sebelum pria ini tertidur. ]

Pria ini begitu garang di tempat tidur. Dia hanya memberiku kesempatan satu kali untuk bernapas, yaitu saat nikmat membuaiku terbang. Setelah itu aku tidak dibiarkannya terbaring diam tanpa suara. Bersamanya selalu seperti perjalanan tanpa akhir. Selalu ada jalan dan terus ada jalan sampai dia sendiri yang berkata, “Cinta, kita sudah sampai.”

Adakah yang lebih indah selain bercinta dengan seseorang yang kita cintai? Bukan nafsu sesaat yang mengatas namakan gairah membabi buta.
Ada kumpulan doa yang terucap saat kukecup lembut kelopak matanya yang tertutup sesaat sebelum aku tidur terlelap memeluk dia.

Tuhan…
Malam ini aku melafalkan kumpulan bait doa
Yang lahir dari sepenggal hati yang masih tersisa
Karena penggalan hati yang lain
Telah terkulai, mati tak bernyawa

Tuhan…
Aku bukanlah orang yang rakus
Yang memakan apapun tanpa sisa
Aku hanya mempunyai satu keinginan
Jikalau pria disampingku ini adalah memang milikku
Biarkan dia tetap disini, terbaring tidur bersamaku
Jikalau dia bukan milikku, biarkan waktu berhenti sekarang
Karena aku tidak ingin dia pergi dan meninggalkanku lagi

Aku terbangun saat sinar pagi menyapa tubuhku. Satu persatu memori mengisi rongga di kepalaku, menyadarkanku atas apa yang terjadi. Kubuka mataku dengan hasrat yang kecewa. Jawaban atas doaku semalam terjawab sudah. Sehelai kertas berwarna putih telah menggantikan pria itu.

Cinta, aku pergi. Aku tidak tega membangunkan dirimu. Kamu tertidur seperti malaikat kecil tanpa sayap. Nyenyak sekali. Aku mencintaimu.

Bagaimana mungkin aku mempunyai sayap jika sayapku telah kau bawa pergi? Adakah yang lebih menyakitkan selain mencintai seseorang tetapi tidak dapat memiliki? Sungguh, aku benar-benar membenci pagi hari!


Pagi ini aku berada di istana mungilku. Sebuah rumah yang dibangun oleh Oka dan aku. Ubud adalah tempat yang tepat saat kami berdua memutuskan untuk membangun rumah untuk ditinggali bersama. Rumah ini tidak besar namun memiliki pekarangan yang luas di bagian depan dan belakang. Persis seperti rumah idaman kami berdua.

“Aku akan membuat kolam ikan di bagian depan dan taman yang cantik di halaman belakang rumah khusus untukmu,” janji Oka suatu ketika.

Istana itu lalu tercipta. Dibangun tidak hanya dengan kayu, batu, semen ataupun butiran pasir. Rumah ini tercipta lebih karena cinta yang ada di antara kami berdua. Sampai-sampai kami menyebut rumah ini adalah rumah cinta. Betul, rumah cinta kami berdua.
Isn’t it romantic, don’t you think?

Waktu berjalan seperti laju bekicot. Lama. Pelan. Membosankan!
“Tidak adil!” pekikku marah. Kemana waktu berlalu ketika aku bersama Oka? Waktu berlari sedemikian cepat seperti hewan dikejar kawanan pemburu. Tak akan berhenti sampai pemburu berhasil menangkap buruannya. Kemudian waktu berhenti berdetak saat Oka pergi, meninggalkan rumah ini. Menyiksaku dengan sejuta kenangan yang berganti silih berganti antara manis dan pahit.
Isn’t it ironic, don’t you think?

“Aku harus pergi dari istana mungilku ini,” kataku sembari bangkit dari peraduan. “Tetapi kemana aku harus pergi?” tanyaku bingung.

Selalu ada tanya diantara keinginan. Dulu, selalu ada Oka yang menjawab tanya itu. Jawaban yang selalu diakhiri dengan pelukan dan ciuman. Kadang tanpa kata dia menjawab. Namun dia mengajakku mengerang, mengecap arena percintaan sesungguhnya. Kini, tanya hanya berupa kalimat tanpa jawaban. Tanpa jawaban sama artinya mengurungku tanpa tahu kapan aku akan bebas. Aku merutuk diriku sendiri mengapa aku menjadi begitu bergantung kepada Oka. Bukankah dia tidak pernah menjadi milikku?
Persetan!!
What the hell!!

Oktober 1999. Sebuah keputusan membawaku pergi ke pulau Dewata. Hanya satu niatku saat itu, aku harus pergi meninggalkan Jakarta. Jakarta bukan tempat yang tepat bagiku. Bukan karena kemacetan di setiap sudut jalan. Bukan karena asap solar yang menutupi paru-paru. Tetapi lebih karena aku ingin sejenak mententeramkan hatiku. Aku patah hati.

Tanpa teman, tanpa tujuan yang pasti, tanpa persiapan yang matang, aku pergi meninggalkan Jakarta. Disanalah aku bertemu Oka. Di suatu pagi yang cerah di daerah Ubud di antara menguningnya padi yang siap panen. Oka melempar senyum kepadaku. Aku tidak membalas, aku malah melengos. Aku membenci pria. Oka datang saat aku dilanda antipati akan pria. Pria bajingan! Mereka semua jahanam, brengsek, tidak tahu diri. Ciih!!

“Boleh aku temani?” Oka kembali melempar senyum kepadaku. Aku tidak menjawab. Aku membuang muka.

“Aku bisa mengajakmu keliling Ubud. Sayang kalau tempat seindah Ubud dilewatkan dengan duduk termenung saja,” ujarnya.

“Apa perdulimu?” bentakku gusar.

“Kalau orangnya indah untuk dipandang seperti kamu, jelas aku perduli,” ujarnya lagi. Kali ini dia tidak hanya tersenyum. Dia menatapku tajam namun teduh. Aku tidak berkomentar. Tetapi kali ini aku tidak membuang muka. Aku terbius oleh tatapannya.

Sebuah kesadaran menampar lamunanku. “Aku tidak tertarik pergi atau berbicara dengan pria tidak jelas sepertimu,” bentakku kemudian.

“Tetapi aku tertarik dengan orang galak seperti kamu. Namaku Oka. Kamu?” tanyanya tidak perduli dengan sikapku. Aku sengaja bersikap kasar supaya dia enggan mendekatiku. Nyatanya dia malah duduk di sebelahku.

Aku tidak menjawab. Bukan karena tak ingin. Tetapi apalah arti sebuah nama. Nama terlahir dari sebuah keharusan akan eksistensi hukum yang nyatanya brobok dan bau tengik. Karena itulah aku tidak tertarik menyebutkan namaku. Aku tidak mau ikut terpasung dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang pernah dijanjikan. Janji gombal selalu menyebalkan!

“Namaku tidak penting,” jawabku ketus.

Dia lagi-lagi tersenyum dan menatap tak berkesip ke arahku. Tatapannya berubah-ubah seperti tembang lagu midley. Sesaat sendu, sesaat menggoda, kadang menerjangku dengan tatapan tajam, seakan-akan ingin menerkam dan menelan tubuhku hidup-hidup.
Tubuhku langsung pias terkena rangsangan aneh yang terpancar dari dirinya. Liar terbungkus aroma erotik. Mempesona sekaligus mematikan.

Sedetik kemudian kami sudah bergumul hebat. Entah siapa yang memulai. Yang aku tahu, aku belum pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Tubuhku meronta lagi, lagi dan lagi saat klimaks membunuh sepiku. Oka seperti tahu keinginan tubuhku. Dia bergerak tanpa kenal lelah. Ciumannya selalu dibarengi dengan ucapan lirih, “As you wish, my angel.”

Kami berdua menghabiskan sore di pantai Kuta. Tanpa kata, tanpa suara. Sepertinya semua pergumulan hebat di hatiku telah tumpah ruah saat Oka bersamaku. Kami berbicara lewat kerlingan mata. Sekali-kali ranting-ranting kayu menggoreskan kata-kata sederhana, terkadang tanpa arti.

“Bolehkah aku mencintaimu?” tulisnya.

Aku menghapus tulisannya. “Tetapi aku galak,” tulisku.

“Aku suka yang galak. Apalagi dari seorang yang cantik seperti kamu.”

“Bullshit!!” tulisku kesal dengan rayuannya.

Kali ini dibuangnya ranting-ranting kayu lalu dipagutnya aku. Dibawanya lagi aku menembus cakrawala jingga. Bersama Oka, semuanya begitu alami. Membisu sekaligus membakar. Sensasional!

Kubisikkan namaku sesaat sebelum sore tenggelam di ufuk barat. Lalu matanya terpejam. Gurat wajahnya mengatakan dia menyukai namaku. Saat kelopak matanya terbuka, semburat bening mengapung di selaput matanya.

“Namamu begitu indah,” pujinya tulus. “Seindah rembulan yang sebentar lagi muncul di ujung senja.”
Diraihnya lagi ranting kayu perdu yang sempat dibuangnya tadi. Ditulisnya namaku. “Cinta Purnama.”

12 Oktober 2002. Aku berada di sebuah café yang menyatu dengan galeri lukisan di pinggiran pantai Sanur. Suasana cafe terlihat semarak dengan adanya janur kuning yang terpancang tinggi menghiasi empat sisi café.
Semburat kelabu menghiasi langit pagi. Awan hitam menodai birunya langit dan putihnya sang mentari. Seharusnya pagi itu menjadi pagi yang menenangkan hati. Bukankah Sanur adalah surga terakhir di pulau Bali? Siapapun pasti enggan berpaling dari tempat ini, bahkan para dewa sekalipun.

Kenapa semua selalu bermula dari sebuah pagi? Adakah pagi diciptakan untuk menyiksa hati? Seharusnya mentari menjadi penerang dari segala duka dan nestapa diri. Apakah hanya di Bali, sang pagi menjadi duri?

Satu persatu tamu dengan memakai pakaian khas Bali memasuki café diiringi bunyi gamelan Bali. Senyum, tawa dan canda menghiasi hampir di setiap wajah yang hadir. Tidak di wajahku. Senyum, tawa dan canda itu tidak aku kenal. Aku asing di antara mereka. Bukan saja karena aku tidak mengenal mereka, tetapi juga karena aku tidak mampu tersenyum, tertawa dan bercanda. Aku masgul dengan keadaan ini. Sepi dan sendiri diantara bahagia.
Aku hadir di pesta pernikahan Oka, anak dari seorang ketua adat berkasta Brahmana. Oka begitu gagah dengan pakaian pengantin Bali yang didominasi warna kuning keemasan. Beginikah kalau putra kasta Brahmana menikah? Begitu wibawa, apik dan menawan hati. Begitu sempurna.

“Seharusnya aku yang bersanding bersamanya pagi ini,” ucapku.

Di redupnya malam di istana kecilku, jauh hari sebelum pertemuanku kembali dengan Oka di pantai Kuta, Oka mengatakan kalau ia akan menikah dengan gadis pilihan orang tuanya bulan Oktober nanti. Oka terpaksa menuruti keinginan orang tuanya. Hanya demi satu alasan kuno. Demi martabat keluarga. Aku tertawa pilu mendengar alasannya. Pernikahan macam apa itu?

Ada tangis yang mendadak menjadi basi, tak berguna saat Oka merengkuhku, mengharap aku mampu menerima kenyataan ini. Sayup kudengar lirih suaranya, “Cinta, aku mencintaimu.”
Cinta ternyata tidak cukup bagimu untuk menikahiku.

Aku tidak mau sendiri. Cukup sudah! Bodoh jika aku harus kesepian lagi. Cukup sudah! Cukuuuuuuppppppp! Aku menjerit mencari sebuah jawaban. Satu kata melayang-layang di otakku. Legian! Yah, benar. Legian. Disana ada tawa. Disana ada canda dan wajah ceria. Yah, benar. Legian. Bau minuman alkohol serasa telah merasuk menembus dinding hidungku. Merangsang indera penciuman yang tak sabar ingin mengikis sedih di dada menjadi tawa gegap gempita. Hura-hura. Tawa. Tawa. Tawa. Wiihh, aku benar-benar tak sabar untuk segera sampai, mereguk setetes apa yang orang katakan kenikmatan duniawi.

Blarr!! Duarr!!

Pagi temaram menyelimuti Bali. Dunia dikejutkan oleh meledaknya sebuah bom di sebuah café di bilangan Legian. Hampir seluruh pengunjung yang datang tewas pada malam naas itu. Sisanya mengalami luka fisik dan trauma hebat.

Tragedi bom Bali. Begitu orang-orang menyebutnya.

Aku baru sampai sekitar 10 menit sebelum bom meledak. Ledakannya begitu dasyat hingga mampu melontarkan tubuhku terbang lalu membentur tembok hingga membuatku tak sadarkan diri. Selebihnya aku tidak ingat apa-apa. Hanya suara sinere yang membahana.
Kemana surga duniawi yang orang ceritakan ada di café ini? Kemana tawa? Kemana canda? Tidak ada. Kosong. Aku kembali sepi. Sendiri. Pedih. Perih.

“Cinta, bangunlah,” sebuah suara membangunkan aku.

Silau. Terang. Putih. Aku tidak melihat apa-apa. Hanya seberkas cahaya yang membungkus kornea mataku. Dimana aku?

“Aku mencintaimu, Cinta,” suara itu menghembuskan semangatku untuk segera bangkit. Tetapi aku sulit berdiri. Tubuhku seakan lumpuh.

“Jangan pergi tinggalkan aku. Maafkan aku, Cinta,” suara itu berubah menjadi isak tangis.
Suara Oka. Oka menangis? Ada apa?

Aku berada di istanaku yang baru. Lebih mungil dari istanaku terdahulu. Kali ini istanaku tidak terdiri dari kumpulan kayu, batu, semen atau butiran pasir. Hanya berupa gundukan tanah merah yang menghitam. Tetapi istanaku sekarang tetap dibangun oleh rasa cinta. Aku tidak bohong! Rumah ini adalah rumah cinta keduaku.

Aku ingat betul banyak orang yang mengantarkanku hanya untuk tidur di istanaku yang baru. Ada Rindra dan Rachmi. Ada Evans dan Adel. Ada Ray dan Sofie. Chatrin, Dini, Erita, Putra, Eko, Ayu dan masih banyak lainnya yang khusus datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk mengantarkanku tidur di istana baruku. Mereka memang sahabat terbaikku. Mereka datang dengan berpakaian senada. Hitam.

Hanya Oka yang berbaju putih. Baju putih? Ahh, Oka memang kekasih hatiku. Dia betul-betul belahan jiwaku. Dia masih ingat kalau aku suka sekali melihatnya memakai baju berwarna putih. Kulihat dia tertunduk lesu. Garis hitam di bawah matanya terlihat jelas. Sekuntum bunga kamboja berwarna kemerahan di selipkan di telinga sebelah kanannya.

Aku diam diantara selangit doa. Kucari rangkuman doa dari lantunan bibir tipis Oka. Doa sang anak Brahmana.

Hyang Widi…
Kemanakah Kau bawa cintaku pergi?
Beri aku jawaban
Jangan hukum aku tanpa tahu kemana dia akan pergi
Adakah firdaus tercipta untukku dan dirinya?
Walaupun tidak ada, biarkan aku turut pergi
Turut terbujur kaku di dalam istananya yang baru

Dibiarkannya bening rintik air membasahi pipinya. Mulutnya bergumam seiring dengan ditebarnya bunga tujuh rupa di atas pusaraku.
Cinta…
Dalam diam aku berdoa
Dalam sendiri aku berharap
Agar dirimu menjadi satu dengan sang pencipta
Ingatlah selalu
Bahwa selalu ada purnama di pantai Kuta
Kenanglah selalu
Bahwa aku selalu mencintaimu
Dulu, sekarang dan selama-lamanya

Selamat jalan cintaku, cinta purnama…